Konten dari Pengguna

Keindahan, Seni dan Imitasi

Reza Fauzi Nazar
Santri - Alumni Lirboyo Kediri - Dosen di UIN Sunan Gunung Djati Bandung
2 April 2025 10:09 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Reza Fauzi Nazar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Picasso pernah bilang, "seni itu dusta yang membuat kita menyadari kebenaran." Mungkin, ia sama sekali tidak pernah menduga bahwa di masa depan, dusta itu bisa dibuat oleh sesuatu yang bukan manusia. Bukan tangan yang memegang kuas, bukan jiwa yang membatin sebelum goresan pertama. Kini, mesin kecerdasan buatan buah teknologi OpenAI belajar dari jutaan lukisan, memahami pola warna, membentuk tekstur, lalu meniru.
ADVERTISEMENT
Beberapa waktu lalu tren itu muncul dan menuai kontroversi. Satu perintah sederhana ditulis—"Gaya Ghibli Studio"—padahal, yang memerintah belum pernah sama menikmati karya Studio Ghibli. Atas prompt itu, dalam beberapa menit terbentuklah lanskap hijau yang rimbun, langit biru yang bersih, rumah-rumah kecil dengan jendela terbuka. Namun, siapa yang menggambar? Siapa yang berjuang dengan kesalahan, menghapus, memulai lagi, mencipta dengan kebimbangan dan gairah?
Miyazaki pemilik Ghibli Studio sendiri menolak dengan keras gagasan seni yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan itu. "Hidup bukan hanya sekadar mengulang pola. Itu adalah tentang merasakan penderitaan, mencipta dari rasa sakit, menemukan kebahagiaan dalam kerja keras," katanya dalam sebuah wawancara. Miyazaki melihat AI sebagai ancaman bagi esensi penciptaan. Ancaman bagi para seniman.
ADVERTISEMENT
Kemajuan teknologi dari AI ini bagi Yuval Noah Harari, dalam Homo Deus adalah kelanjutan alamiah dari "ambisi" manusia untuk menciptakan makhluk serupa Tuhan. "Di masa lalu, manusia ingin memahami dunia; sekarang mereka ingin mengontrolnya."Katanya. AI dalam seni bukan sekadar teknologi, melainkan manifestasi dari hasrat yang tak pernah puas untuk melampaui batas-batas biologis. Teknologi ini, bagi sebagian orang, merupakan demokratisasi seni: kini siapa pun bisa menghasilkan karya dalam gaya Ghibli tanpa harus melalui puluhan tahun latihan.
Foto Istri dan Kedua anak saya menggunakan AI Generate vintage style.
Fenomena yang, sebenarnya mungkin bukan hal baru. Setiap zaman memiliki teknologinya sendiri untuk mengubah cara manusia berkarya. Sewaktu fotografi ditemukan, pelukis potret khawatir kehilangan pekerjaan. Ketika komputer memungkinkan desain grafis, banyak ilustrator manual merasa cemas. Namun, perbedaannya: jika sebelumnya teknologi adalah "alat" di tangan manusia, kini ia menjadi "pencipta" itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Era teknologi seperti saat ini jauh-jauh hari sudah dibicarakan oleh Baudrillard, bahwa realitas bisa tergantikan oleh simulasi yang lebih nyata, dari kenyataan itu sendiri. Masalahnya, apakah AI yang meniru gaya Studio Ghibli lebih "Ghibli" daripada seniman manusia? Jika manusia menggambar dengan segala ketidaksempurnaannya, dan AI menggambar dengan keakuratan algoritma, manakah seni yang sejati?
Syahdan, seni tentu bukan sekadar representasi visual, tetapi manifestasi jiwa manusia dalam bentuk yang dapat ditangkap indera. Jika AI menghasilkan gambar yang indah, tetapi tanpa pengalaman personal, tanpa sejarah penderitaan, tanpa perasaan yang mengendap lama di batin sang seniman, lalu di mana "ruh" seni itu berada? Bukankah seni, pada akhirnya, adalah komunikasi emosi dari satu jiwa ke jiwa lain? Itu yang mungkin dikhawatirkan Hayao Mizayaki.
ADVERTISEMENT
Jika kita menolak AI sebagai bagian dari seni pun, tidakkah itu, jika tidak berlebihan seperti menolak keberadaan fotografi dalam dunia lukisan? Tidakkah kita sedang terperangkap dalam romantisme yang menolak kemajuan? Realitasnya, teknologi yang kita gunakan bukan sekadar alat, tetapi juga akhirnya merangsek dan menentukan cara kita berpikir. Diakui atau tidak, hanya satu hal yang tidak bisa dilakukan teknologi, yaitu kembali. Jika AI menjadi medium baru dala segala hal, termasuk seni, tidakkah kita juga harus melihatnya sebagai bagian dari evolusi kreativitas itu sendiri?
Dalam dunia digital, di mana satu gambar bisa diunggah, disalin dan disebarkan dalam hitungan detik, apakah AI benar-benar mencipta sesuatu, atau hanya mengulang yang sudah ada? Entahlah. Yang pasti, seni selalu memiliki keunikan—goresan tangan pelukis yang tidak bisa diulang, detak jantung yang berdebar saat kanvas pertama kali disentuh. AI tidak memiliki itu. Ia hanya mencoba memprediksi, mengkalkulasi, dan mereplikasi.
ADVERTISEMENT
Namun, di tengah dilema itu, teknologi AI memungkinkan setidaknya lebih banyak orang mengakses seni. Bukankah para pengikut tren penggunaan AI yang tidak tahu besutan karya Ghibli Studio akhirnya penasaran? Setiap orang yang mungkin tidak memiliki keterampilan teknis menggambar sekalipun kini bisa menuangkan "imajinasinya" melalui AI.
Kita pernah melihat hal serupa terjadi dalam dunia musik: synthesizer memungkinkan komposer menciptakan orkestra tanpa harus memiliki akses ke pemain biola atau klarinet. Kamera yang bahkan saat ini ada dalam genggaman ponsel kita juga memungkinkan siapa saja menjadi fotografer tanpa harus belajar melukis pemandangan.
Tapi, apakah itu cukup? Apakah kita benar-benar sedang memperluas kreativitas, atau justru seperti yang dikecam Mizayaki, sedang mereduksi nilai perjuangan dalam berkarya para seniman? Jika seni tidak lagi melibatkan pergulatan, apakah ia masih bisa disebut sebagai seni?
ADVERTISEMENT
Tentu, seni adalah bentuk ekspresi kehendak yang muncul dari dorongan batin manusia untuk mencipta, sebuah upaya untuk melampaui keterbatasannya. Jika AI menggantikan seniman, apakah manusia akan berhenti menggambar, berhenti melukis, dan hanya menjadi kurator atas karya mesin? Atau kita akan melihat AI sebagai alat baru, sebagaimana kamera bagi fotografer, sebagaimana piano elektrik bagi musisi?
Seorang penyair mungkin tak akan berhenti menulis hanya karena mesin ketik ditemukan, dan seorang pelukis tak akan berhenti berkarya hanya karena kamera diciptakan. AI bukanlah akhir dari seni, tetapi ia menuntut kita untuk "berpikir ulang" tentang seni itu sendiri.
Sebab, ada satu hal yang tetap tidak bisa diambil alih oleh AI: makna. Mesin bisa meniru gaya, bisa mempelajari pola, tetapi ia tidak bisa memahami pengalaman manusia. Mungkin ia "cerdas" dan bisa berpikir, namun AI tidak bisa memahami rasa kehilangan, penderitaan, harapan, dan keindahan yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang hidup dan bernapas.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, kita harus tetap bersabar terhadap hal-hal yang belum terjawab. AI mungkin akan terus berkembang, akan semakin canggih, entah apalagi terobosan yang kelak diciptakannya. Tetapi pertanyaannya tetap sama: Apa yang membuat seni menjadi seni? Dan apakah kita siap menerima jawaban yang terus berubah? [ ]