Konten dari Pengguna

Jurnalisme Online dalam Arus Disrupsi Teknologi: Tantangan dan Adaptasi

Rifa Althof Rizqullah
Mahasiswa Komunikasi Digital dan Media SV IPB University
16 Maret 2025 13:36 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rifa Althof Rizqullah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto oleh Glenn Carstens-Peters (Menulis)
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Glenn Carstens-Peters (Menulis)
ADVERTISEMENT
Perkembangan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan, termasuk cara kita mengakses dan membaca berita. Jurnalisme online muncul sebagai bentuk baru dari jurnalisme konvensional, yang beralih dari media cetak ke platform digital. Dengan kemudahan akses dan kecepatan penyebaran informasi, semakin banyak orang yang beralih ke berita digital sebagai sumber utama informasi mereka. Namun, perkembangan ini juga membawa tantangan besar, terutama dalam menjaga akurasi dan profesionalisme di tengah persaingan kecepatan informasi. Selain itu, perubahan ini juga mendorong media untuk terus berinovasi agar tetap relevan di era digital. Teknologi yang semakin maju memungkinkan jurnalisme menjadi lebih dinamis, tetapi juga menimbulkan ancaman terhadap independensi dan kredibilitas media.
ADVERTISEMENT
Oscar Westlund (2008) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa perangkat seluler kini bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sarana multimedia yang mendukung produksi dan konsumsi berita. Tren ini semakin berkembang, hingga pada 2013 ia memperkenalkan konsep "mobile news," yaitu berita yang dikonsumsi melalui perangkat seluler dengan akses internet dan layar sentuh. Pergeseran ini membuat perusahaan media harus menyesuaikan diri dengan aplikasi dan situs web berbasis seluler agar tetap relevan di era digital. Selain itu, kehadiran teknologi seluler memungkinkan jurnalisme semakin dekat dengan audiens karena berita dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Dengan adopsi aplikasi berita, notifikasi real-time, dan fitur interaktif, masyarakat semakin dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan informasi dalam genggaman mereka. Akan tetapi, kebergantungan terhadap teknologi seluler juga menciptakan tantangan baru, seperti penyebaran berita palsu yang sulit dikendalikan dan meningkatnya persaingan dalam industri media.
ADVERTISEMENT
Perkembangan Jurnalisme Online di Indonesia
Di Indonesia, jurnalisme online mulai berkembang pada pertengahan 1990-an dengan munculnya Republika.co.id dan Kompas.com. Namun, perubahan besar terjadi pada tahun 1998 dengan kehadiran Detik.com yang memperkenalkan berita real-time, berbeda dari media cetak yang memiliki waktu jeda publikasi. Sejak saat itu, jurnalisme digital terus berkembang, menghadirkan berbagai format seperti infografis, video interaktif, hingga distribusi berita melalui media sosial. Fenomena ini mengubah cara masyarakat mengonsumsi berita, dari yang sebelumnya harus menunggu koran terbit, menjadi bisa langsung mendapatkan informasi terbaru hanya dengan sekali klik. Perubahan ini juga mendorong media lain untuk beradaptasi dan mulai beralih ke platform digital agar tidak tertinggal dalam persaingan industri media yang semakin kompetitif.
ADVERTISEMENT
Seiring dengan berubahnya kebiasaan masyarakat dalam mengakses berita, Adornato (2017) dalam bukunya Mobile and Social Journalism menjelaskan bahwa masyarakat kini lebih banyak mengandalkan perangkat seluler untuk mendapatkan informasi. Mereka tidak hanya mengunjungi situs web resmi media, tetapi juga memperoleh berita dari media sosial seperti Twitter, Facebook, dan Instagram. Hal ini memunculkan fenomena jurnalisme warga (citizen journalism), di mana siapa saja bisa melaporkan peristiwa langsung melalui platform digital. Namun, fenomena ini juga membawa tantangan terkait keakuratan dan kebenaran informasi yang cepat menyebar tanpa proses verifikasi yang memadai. Banyak pengguna media sosial yang hanya membagikan berita tanpa membaca isinya secara menyeluruh, sehingga meningkatkan risiko penyebaran berita yang salah atau menyesatkan. Selain itu, perkembangan ini juga menantang media konvensional untuk tetap menjaga kredibilitas mereka di tengah persaingan dengan informasi yang beredar di media sosial.
ADVERTISEMENT
Selain itu, munculnya algoritma media sosial juga berkontribusi dalam membentuk pola konsumsi berita. Algoritma ini cenderung menyajikan berita berdasarkan preferensi pengguna, yang dapat memperkuat bias informasi dan menciptakan filter bubble atau ruang gema informasi. Akibatnya, masyarakat cenderung hanya menerima berita yang sesuai dengan pandangan mereka, tanpa mendapatkan perspektif yang lebih luas. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas demokrasi karena informasi yang dikonsumsi tidak lagi beragam dan hanya memperkuat keyakinan yang sudah ada sebelumnya. Oleh karena itu, penting bagi media dan jurnalis untuk memastikan bahwa berita yang mereka sajikan tetap netral, berbasis fakta, dan menyajikan berbagai sudut pandang agar audiens mendapatkan informasi yang lebih seimbang.
Tantangan dalam Verifikasi dan Akurasi Berita
ADVERTISEMENT
Lase (2015) memperkenalkan konsep hybrid journalism, di mana media online mulai menggunakan konten dari media sosial sebagai sumber berita. Misalnya, Kompas.com mengembangkan Kompasiana, sebuah platform bagi jurnalisme warga untuk berbagi informasi yang kemudian dapat dijadikan berita resmi. Model ini memungkinkan masyarakat lebih aktif dalam penyebaran berita, tetapi juga menghadirkan tantangan besar dalam memastikan kebenaran informasi. Banyak berita yang diambil dari unggahan media sosial tanpa verifikasi yang memadai, sehingga berisiko menyebarkan hoaks dan informasi yang menyesatkan. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme verifikasi yang lebih ketat serta peningkatan kesadaran publik akan pentingnya memilah informasi sebelum menyebarkannya.
Kecepatan penyajian berita dalam jurnalisme online juga berdampak pada format penyampaian berita itu sendiri. Pangaribuan (2017) mencatat bahwa berita di media sosial cenderung disajikan dalam format yang lebih singkat dengan tambahan elemen visual seperti video dan infografis untuk menarik perhatian pembaca. Meskipun pendekatan ini membuat berita lebih mudah dipahami dan cepat tersebar, sering kali kedalaman analisis dan konteks berita dikorbankan. Oleh karena itu, media online harus mencari keseimbangan antara kecepatan penyajian dan kualitas informasi agar tetap terpercaya. Media juga harus membangun budaya jurnalisme yang lebih bertanggung jawab dengan menempatkan keakuratan informasi di atas kecepatan penyampaian berita.
ADVERTISEMENT
Selain itu, peran media dalam menangkal berita palsu (hoaks) menjadi semakin penting. Banyak berita yang bersumber dari media sosial dapat dimanipulasi dengan tujuan tertentu, seperti kepentingan politik atau ekonomi. Oleh karena itu, media harus mengembangkan mekanisme pengecekan fakta yang lebih ketat dan mendidik masyarakat agar lebih kritis dalam mengonsumsi informasi. Dengan adanya kerja sama antara media, pemerintah, dan masyarakat dalam menangani penyebaran berita hoaks, kualitas informasi yang beredar di ruang digital dapat lebih terjaga.
Disrupsi teknologi dalam dunia jurnalisme menghadirkan tantangan sekaligus peluang besar. Masyarakat kini lebih banyak mengakses berita melalui platform digital, memaksa media untuk menyesuaikan diri dengan format dan pola konsumsi baru. Namun, tuntutan kecepatan dalam penyebaran berita sering kali bertentangan dengan prinsip dasar jurnalisme, yaitu akurasi dan kredibilitas. Oleh karena itu, jurnalisme online harus terus berinovasi dengan tetap menjaga standar profesionalisme.
ADVERTISEMENT
Dengan memastikan berita sudah diverifikasi, mengadopsi format yang menarik, serta memahami pola konsumsi audiens digital, jurnalisme online dapat terus berkembang sebagai sumber informasi yang terpercaya di era teknologi modern. Selain itu, media juga harus berperan aktif dalam menangkal berita palsu dan memberikan edukasi kepada masyarakat agar lebih kritis dalam menyaring informasi. Dengan demikian, jurnalisme digital tidak hanya menjadi sumber berita, tetapi juga pilar utama dalam membangun masyarakat yang lebih melek informasi dan demokratis.