Konten dari Pengguna

Masa Depan Santri: Adaptasi di Dunia yang Serba Digital

Rizal Mifthakul Prayogi
Mahasiswa Pascasarjana Studi Islam UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung
7 Maret 2025 12:02 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Rizal Mifthakul Prayogi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi santri era digital (Sumber: Gettyimages)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi santri era digital (Sumber: Gettyimages)
ADVERTISEMENT
Memasuki awal tahun 2025, santri tingkat Aliyah atau SMA (kelas 12) dihadapkan pada dilema besar dalam menentukan masa depan mereka. Di tengah persiapan menghadapi ujian sekolah, mereka harus memilih antara tiga jalur utama setelah lulus: melanjutkan ke perguruan tinggi, langsung bekerja, atau menikah. Setiap pilihan membawa kegelisahan tersendiri. Standar akademik untuk masuk perguruan tinggi semakin ketat, ekspektasi dari pasangan dan keluarga dalam memilih menantu juga meningkat, sementara di dunia kerja, Revolusi Industri 4.0 menuntut minimal gelar S1 atau diploma agar dapat bersaing di pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif.
ADVERTISEMENT
Perubahan dalam kehidupan modern dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, ekonomi, dan sosial yang pesat. Revolusi Industri 4.0 membawa transformasi besar dalam dunia kerja, di mana otomatisasi, kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), big data, serta robotika mulai menggantikan banyak peran manusia. Dalam era ini, keterampilan menjadi aset yang sangat penting. Santri, yang selama ini lebih berfokus pada ilmu agama, kini harus beradaptasi dengan dunia yang semakin didominasi oleh teknologi dan digitalisasi.
Meskipun memiliki keilmuan yang kuat dalam bidang agama, banyak santri menghadapi tantangan besar dalam beradaptasi dengan kebutuhan keterampilan teknis yang diperlukan di dunia kerja modern. Di pesantren, ilmu agama sering dipandang sebagai prioritas utama, sementara ilmu sains dan teknologi dianggap sebagai pelengkap. Hal ini menyebabkan banyak santri merasa ragu atau kurang percaya diri saat memilih jurusan di luar bidang keagamaan. Namun, paradigma modern menuntut integrasi antara ilmu agama dan sains. Sikap dilema ini berakar dari perbedaan nilai-nilai tradisional yang mereka pelajari di pesantren dengan tuntutan dunia kerja serta perkembangan teknologi.
Pierre Bourdieu (sumber: Gettyimages)
Pierre Bourdieu, seorang sosiolog ternama, menjelaskan bahwa perilaku individu dipengaruhi oleh konsep habitus dan modal. Habitus adalah pola pikir dan kebiasaan yang terbentuk dari pengalaman sosial sejak kecil, termasuk dari lingkungan pesantren. Nilai-nilai yang diwariskan di pesantren, seperti kepatuhan terhadap kiai dan kesederhanaan hidup, kadang membuat santri kurang siap menghadapi dunia industri yang serba cepat dan kompetitif. Selain itu, santri umumnya lebih mengutamakan ilmu agama, yang dalam beberapa kasus dapat menjadi hambatan ketika mereka memasuki dunia yang lebih membutuhkan keterampilan teknis dan adaptasi dengan perkembangan teknologi.
ADVERTISEMENT
Dalam konsep modal Bourdieu, santri memiliki keunggulan dalam modal budaya (penguasaan ilmu agama, dakwah, dan bahasa Arab), modal sosial (jaringan alumni yang luas dan solidaritas kuat), serta modal simbolik (reputasi sebagai individu religius dan berintegritas). Jika dimanfaatkan dengan baik, modal ini dapat menjadi aset berharga dalam membangun usaha bisnis halal dan dakwah digital. Namun, santri sering kali kekurangan modal ekonomi serta akses ke dunia industri modern, yang menjadi tantangan tersendiri bagi mereka.
Untuk menghadapi tantangan ini, integrasi teknologi dalam pendidikan pesantren menjadi sangat penting. Rivan Efendi dalam tulisannya menekankan bahwa penggunaan teknologi dalam kurikulum pesantren dapat memperkuat peran santri di masyarakat. Media sosial seperti Facebook, Instagram, Twitter, dan TikTok dapat digunakan sebagai alat dakwah dan pengembangan karakter santri. Selain itu, kemampuan menulis dan membuat konten digital juga menjadi keterampilan yang harus dikuasai agar santri lebih berdaya dalam menyebarkan dakwah dan berpartisipasi dalam diskusi sosial keagamaan.
ADVERTISEMENT
Rektor IAI Al-Fatimah Bojonegoro menambahkan bahwa santri harus memiliki intelektualitas yang luas dan mampu beradaptasi dengan teknologi modern seperti AI, IoT, dan robotika. Untuk itu, diperlukan keterampilan abad ke-21 yang dirangkum dalam konsep 4C 1H: Critical Thinking (berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah), Creativity (kemampuan berinovasi), Collaboration (kemampuan bekerja sama), Communication (kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik), serta Hold Fast to the Creed (memegang teguh akidah Islam). Dengan menguasai keterampilan ini, santri dapat bersaing di era digital tanpa kehilangan nilai-nilai spiritual dan moralitas yang menjadi fondasi utama pendidikan pesantren.
Selain itu, pesantren memiliki peran sentral dalam kehidupan modern. Nenden Maesruroh dan Yani Achdiani dalam penelitiannya menjelaskan, Pesantren di era modern tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai penjaga nilai dan norma keagamaan dalam masyarakat. Untuk menjawab tantangan zaman, pesantren kini mengadopsi pendidikan formal guna membekali santri dengan ilmu umum yang relevan. Selain sebagai lembaga pendidikan (tarbiyah), pesantren tetap menjadi pusat kegiatan keagamaan (fungsi religi) serta memiliki peran sosial dalam menjaga moralitas dan nilai-nilai Islam tradisional. Bahkan, dalam perkembangannya, pesantren kini mulai mengembangkan fungsi ekonomi dengan mendirikan berbagai usaha guna mendukung keberlanjutan operasionalnya.
ADVERTISEMENT
Dengan demikian, pesantren terus bertransformasi menjadi lembaga yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman, tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam sebagai dasar pendidikan dan pembentukan karakter santri. Santri yang ingin sukses di era modern perlu memanfaatkan modal yang mereka miliki, mengembangkan keterampilan baru, serta memanfaatkan teknologi sebagai alat untuk beradaptasi dan bersaing di dunia yang terus berubah.