Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Pegaruh Tradisi Mudik Lebaran terhadap Kontribusi PDB Indonesia
1 April 2025 17:12 WIB
·
waktu baca 4 menitTulisan dari Salma Nadia Salsabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Mudik Lebaran merupakan fenomena tahunan yang terjadi di Indonesia, di mana jutaan perantau kembali ke kampung halaman untuk merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga. Tradisi ini tidak hanya memiliki dimensi sosial dan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Berbagai sektor ekonomi mengalami lonjakan aktivitas, mulai dari transportasi, pariwisata, konsumsi rumah tangga, hingga industri kecil dan menengah (IKM).
ADVERTISEMENT
Berdasarkan laporan Kementerian Perhubungan (2025) jumlah pemudik pada tahun 2025 mencapai 146,48 juta orang, menurun dari tahun sebelumnya. menurunnya jumlah pemudik ini berdampak langsung pada sektor transportasi, dengan menurunnya permintaan tiket pesawat, kereta api, bus, dan penyewaan kendaraan.
Selain transportasi, sektor konsumsi juga mengalami penurunan signifikan. Menurut Sarman Simanjorang yang merupakan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah mengungkapkan bahwa perputaran uang Lebaran 2025 diperkirakan hanya mencapai Rp137,97 triliun. Angka ini menunjukkan penurunan sekitar Rp20 triliun atau 12,3 persen dibandingkan proyeksi tahun lalu yang mencapai Rp157,3 triliun.
"Kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil dan daya beli masyarakat yang melemah menjadi faktor utama menurunnya perputaran uang Lebaran tahun ini," kata Sarman, dikutip dari Kompas.com.
ADVERTISEMENT
"Memang ada indikasi konsumsi masyarakat di Lebaran tahun ini cenderung defensif," kata Agus dalam program Power Lunch CNBC Indonesia, dikutip Selasa (1/4/2025).
Fenomena menurunnya pemudik pada tahun ini memiliki berkontribusi terhadap pertumbuhan sektor perdagangan dan industri manufaktur yang menyuplai kebutuhan konsumsi.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sektor konsumsi rumah tangga merupakan penyumbang terbesar terhadap PDB Indonesia, dengan kontribusi lebih dari 50% (BPS, 2024). Dalam periode Lebaran, belanja masyarakat meningkat pesat, terutama dalam sektor transportasi dan perdagangan. Studi yang dilakukan oleh Bank Indonesia (2023) menunjukkan bahwa selama musim mudik, konsumsi rumah tangga dapat meningkat hingga 20% dibandingkan bulan-bulan biasa. Oleh karena itu, penurunan jumlah pemudik pada tahun 2025 dapat berdampak langsung terhadap perlambatan pertumbuhan konsumsi, yang pada akhirnya mempengaruhi PDB secara keseluruhan.
ADVERTISEMENT
Faktor yang menyebabkan penurunan jumlah pemudik pada tahun 2025 cukup beragam. Salah satu penyebab utama adalah meningkatnya biaya transportasi akibat kenaikan harga bahan bakar dan tiket perjalanan. Berdasarkan laporan Kementerian Perhubungan (2025), harga tiket pesawat dan kereta api mengalami lonjakan hingga 30% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menyebabkan banyak masyarakat memilih untuk tidak melakukan perjalanan jauh selama Lebaran. Selain itu, adanya PHK yang terjadi sejak awal tahun, termasuk gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di beberapa sektor industri, telah membuat masyarakat lebih selektif dalam membelanjakan uangnya.
Dampak ekonomi dari penurunan jumlah pemudik terlihat jelas di berbagai sektor. Sektor transportasi, yang biasanya mengalami lonjakan pendapatan selama musim mudik, mengalami penurunan signifikan dalam jumlah penumpang.
ADVERTISEMENT
Sektor ritel dan konsumsi juga terdampak oleh fenomena ini. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO), memproyeksikan kenaikan penjualan 15 persen dibanding awal tahun, tetapi akan lebih rendah dibanding musim Lebaran 2024. Hal ini mencerminkan berkurangnya daya beli masyarakat atau perubahan pola konsumsi akibat kondisi ekonomi yang lebih menantang. Selain itu, sektor UMKM yang biasanya menikmati lonjakan permintaan selama musim mudik juga terkena dampaknya, terutama bagi pelaku usaha di daerah yang bergantung pada wisatawan dan pemudik.
Meskipun penurunan jumlah pemudik memberikan dampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi jangka pendek, ada sisi positif yang dapat diambil. Pengurangan arus mudik dapat mengurangi beban infrastruktur transportasi serta menekan angka kecelakaan lalu lintas yang biasanya meningkat selama periode ini. Selain itu, berkurangnya mobilitas juga berdampak pada pengurangan emisi karbon, yang berkontribusi terhadap upaya keberlanjutan lingkungan.
ADVERTISEMENT
Tradisi mudik Lebaran memiliki peran yang sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Penurunan jumlah pemudik tahun 2025 menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi dan mobilitas masyarakat, yang berdampak pada berbagai sektor. Oleh karena itu, diperlukan adaptasi dan inovasi agar dampak ekonomi dari perubahan ini dapat dikelola dengan baik dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.