Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Asal-usul Suku Jambak dan Tradisinya yang Tetap Lestari
2 April 2025 21:39 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Asal-usul suku Jambak merupakan bagian dari sejarah panjang etnis Minangkabau yang memiliki sistem adat dan kekerabatan yang unik.
ADVERTISEMENT
Suku ini dikenal sebagai pecahan dari suku Guci, yang berasal dari Lareh Koto Piliang dengan prinsip kepemimpinan "bajanjang naiak, batanggo turun."
Sejarah dan perkembangan suku Jambak mencerminkan integrasi antara dua sistem kelarasan yang berbeda dalam adat Minangkabau.
Asal-Usul Suku Jambak
Dikutip dari laman p2k.stekom.ac.id, asal-usul suku Jambak berawal dari suku Guci, yang merupakan bagian dari sistem adat Lareh Koto Piliang di Minangkabau.
Suku ini awalnya menganut prinsip kepemimpinan yang hierarkis dengan struktur yang jelas dalam pemerintahan adat.
Namun, dalam perkembangannya, suku Jambak mengalami perubahan dalam penerapan adat, terutama ketika sebagian kelompoknya mulai mengadopsi sistem Lareh Bodi Chaniago yang lebih egaliter.
Pergeseran sistem adat ini terlihat jelas dalam kehidupan masyarakat suku Jambak di berbagai daerah, terutama di Kota Padang dan Bukittinggi.
ADVERTISEMENT
Di Padang, suku Jambak memiliki hubungan kekerabatan dengan suku Sumagek, Mandaliko, dan Panyalai yang menganut Lareh Bodi Chaniago dengan prinsip "tagak samo tinggi, duduak samo randah."
Sebaliknya, suku Jambak di Bukittinggi tetap mempertahankan tradisi Lareh Koto Piliang, tetapi juga mengadopsi unsur Lareh Bodi Chaniago.
Hal ini tercermin dalam bentuk rumah gadang yang berlantai datar, berbeda dengan rumah adat Koto Piliang yang memiliki anjuang di ujung bangunan.
Selain perubahan dalam sistem kelarasan, suku Jambak juga dikenal memiliki pecahan seperti suku Malayu dan suku Sipisang.
Kedua pecahan ini tetap mempertahankan sistem adat Koto Piliang, tetapi dalam perkembangannya, ada juga kelompok yang menerapkan kombinasi antara kedua sistem adat.
Fenomena ini dikenal dengan istilah Lareh Nan Panjang, yang merupakan bentuk perpaduan dari Lareh Koto Piliang dan Lareh Bodi Chaniago.
ADVERTISEMENT
Sejarah suku Jambak juga tidak lepas dari berbagai teori mengenai asal-usulnya.
Salah satu teori menyebutkan bahwa suku ini berasal dari rombongan pengembara yang dipimpin oleh Hera Mong Champa atau Harimau Champo dari Tiongkok, Champa, dan Siam.
Teori ini mengaitkan kemiripan nama "Jambak" dengan "Champa," meskipun tidak ada bukti kuat yang mendukung hubungan ini.
Sebagian besar masyarakat Minangkabau menolak teori ini karena suku Jambak sudah jelas merupakan bagian dari etnis Minangkabau yang terbentuk dari pecahan suku Guci.
Sistem kepemimpinan adat dalam suku Jambak diwariskan melalui garis matrilineal, seperti halnya suku-suku lain di Minangkabau.
Beberapa pangulu suku yang terkenal antara lain Datuk Rajo Alam, Datuk Mejan Sati, Datuk Basa, dan Datuk Nan Baruso.
ADVERTISEMENT
Keberadaan pangulu ini menunjukkan peran penting struktur adat dalam menjaga kelangsungan tradisi dan hukum adat Minangkabau.
Banyak tokoh berpengaruh berasal dari suku Jambak, termasuk ulama terkenal Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul, yang merupakan ayah dari Buya Hamka.
Selain itu, terdapat tokoh-tokoh modern seperti Tanboy Kun, seorang YouTuber terkenal, dan beberapa tokoh politik serta akademisi.
Asal-usul suku Jambak mencerminkan bagaimana adat dan budaya Minangkabau terus berkembang dan beradaptasi seiring waktu.
Keberadaannya sebagai bagian dari pecahan suku Guci tetap menjadi ciri khas dalam struktur sosial dan adat Minangkabau hingga saat ini. (Shofia)