Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Filosofi Ketupat Menurut Sunan Kalijaga, Sederhana tetapi Sarat Makna
2 April 2025 21:35 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Filosofi ketupat menurut Sunan Kalijaga merupakan salah satu ajaran budaya yang masih dilestarikan hingga saat ini.
ADVERTISEMENT
Ketupat bukan sekadar hidangan khas Lebaran, tetapi juga memiliki makna mendalam yang berkaitan dengan nilai spiritual dan sosial dalam kehidupan masyarakat Jawa.
Sunan Kalijaga, sebagai salah satu Wali Songo, menggunakan ketupat sebagai simbol dalam penyebaran ajaran Islam di tanah Jawa.
Makna Simbolis dalam Filosofi Ketupat Menurut Sunan Kalijaga
Setiap elemen dalam ketupat memiliki makna tersendiri. Dikutip dari buku Buku Jejak Sejarah Wali Songo, Agus Sunyoto, 2017:205, filosofi ketupat menurut Sunan Kalijaga menggambarkan kehidupan manusia yang penuh dengan kesalahan dan bagaimana cara membersihkan diri dari dosa.
Berikut ini merupakan beberapa makna dari filosofi ketupat menurut Sunan Kalijaga.
1. Simbol Anyaman Ketupat
Ketupat yang dianyam dari janur memiliki makna mendalam. Anyaman yang rumit melambangkan kesalahan dan dosa manusia yang saling berkaitan. Janur sendiri berasal dari kata ja'afarun nur, yang dalam bahasa Arab berarti cahaya suci.
ADVERTISEMENT
Hal ini menggambarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk kembali ke jalan yang benar dengan menyucikan diri melalui ibadah dan permohonan ampunan kepada Tuhan.
2. Makna Ketupat yang Telah Matang
Ketupat yang sudah matang mencerminkan penyucian diri setelah menjalani ibadah puasa dan berbagai amalan di bulan Ramadan.
Dikutip dari buku Buku Budaya Islam Jawa, Suwardi Endraswara, 2018:142, disebutkan bahwa Sunan Kalijaga mengajarkan ketupat sebagai simbol kemenangan, di mana seseorang telah melewati ujian spiritual dan mencapai kesucian hati.
Hal ini sesuai dengan semangat Idul Fitri yang menekankan kembali ke keadaan fitrah atau suci.
3. Filosofi Ketupat dalam Tradisi Masyarakat
Filosofi ketupat menurut Sunan Kalijaga tidak hanya berkaitan dengan aspek spiritual, tetapi juga sosial. Ketupat sering dibagikan kepada tetangga dan keluarga sebagai simbol saling memaafkan.
ADVERTISEMENT
Dalam tradisi masyarakat Jawa, terdapat istilah lebaran, luberan, leburan, dan laburan yang menggambarkan makna ketupat dalam kehidupan sosial, yaitu berbagi rezeki, menghapus kesalahan, serta membersihkan hati.
Makna yang terkandung dalam filosofi ketupat menurut Sunan Kalijaga menjadi bagian dari warisan budaya yang tetap relevan hingga kini.
Ketupat tidak hanya sekadar makanan khas Lebaran, tetapi juga memiliki pesan moral yang mendalam. Nilai-nilai yang diajarkan Sunan Kalijaga melalui ketupat mengingatkan pentingnya introspeksi diri dan menjaga hubungan baik dengan sesama. (Mona)