Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Filosofi Lebaran Ketupat yang Jarang Diketahui
2 April 2025 21:34 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Filosofi Lebaran ketupat memiliki makna mendalam dalam budaya masyarakat Indonesia, terutama di wilayah Jawa.
ADVERTISEMENT
Lebaran ketupat sendiri merupakan tradisi yang biasanya dirayakan satu minggu setelah Hari Raya Idulfitri. Perayaan ini erat kaitannya dengan ajaran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang berperan dalam penyebaran Islam di Jawa.
Makna Filosofi Lebaran Ketupat dalam Budaya Indonesia
Setiap tradisi yang berkembang di masyarakat memiliki filosofi yang dalam, termasuk filosofi Lebaran ketupat.
Dikutip dari buku Ensiklopedia Budaya Jawa, Purwadi, 2005:146, ketupat atau kupat merupakan singkatan dari "ngaku lepat", yang berarti mengakui kesalahan.
Oleh karena itu, lebaran ketupat menjadi momen untuk saling memaafkan dan mempererat tali silaturahmi.
Ketupat tidak hanya menjadi hidangan khas, tetapi juga memiliki simbol dalam setiap bagiannya.
Bentuk anyaman daun kelapa yang membungkus ketupat melambangkan kompleksitas kehidupan manusia. Sementara itu, warna hijau daun kelapa mencerminkan kesucian hati setelah menjalani ibadah puasa.
ADVERTISEMENT
Di dalamnya, beras yang dimasak hingga menjadi ketupat melambangkan kesempurnaan setelah melewati proses pembersihan diri.
Hal ini sesuai dengan nilai-nilai dalam filosofi lebaran ketupat, di mana seseorang yang telah menyelesaikan puasa sunah Syawal dianggap telah mencapai kesempurnaan ibadah.
Tradisi Lebaran Ketupat
Dalam tradisi masyarakat Jawa, perayaan ini sering kali disertai dengan kenduri atau syukuran.
Ketupat disajikan bersama lauk khas seperti opor ayam dan sambal goreng hati sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan. Tradisi ini juga memperkuat nilai kebersamaan dan kepedulian sosial.
Berdasarkan buku Tradisi dan Budaya Nusantara, Hidayat dan Zainal, 2017:212, lebaran ketupat juga dikenal di berbagai daerah dengan sebutan yang berbeda. Di Madura, tradisi ini disebut "Tellasan Topak", sementara di Lombok dikenal dengan "Lebaran Topat".
ADVERTISEMENT
Filosofi Lebaran ketupat tidak hanya sekadar hidangan khas setelah Idulfitri, tetapi juga mengandung nilai-nilai religius dan sosial. Melalui simbol ketupat, masyarakat diajak untuk selalu mengakui kesalahan, memperbaiki diri, dan menjalin silaturahmi.
Tradisi ini menjadi warisan budaya yang memperkaya kearifan lokal dan terus dilestarikan oleh berbagai generasi. (Mona)