Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Mitos Jalan Malioboro yang Konon Penuh Energi Mistis dan Kisah Gaib
30 Maret 2025 9:49 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Mitos Jalan Malioboro telah menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat Yogyakarta sejak lama.
ADVERTISEMENT
Kawasan ini tidak hanya dikenal sebagai pusat wisata dan perdagangan, tetapi juga menyimpan berbagai kisah mistis yang berkembang dari generasi ke generasi.
Kepercayaan terhadap mitos tersebut tetap bertahan meskipun perkembangan zaman terus mengubah wajah Malioboro.
Mitos Jalan Malioboro
Mitos Jalan Malioboro berkaitan erat dengan sejarah dan filosofi kota Yogyakarta.
Mengutip dari terasmalioboro.jogjaprov.go.id, Malioboro sendiri dibangun oleh pemerintah Hindia Belanda pada awal abad ke-19 sebagai kawasan pusat perekonomian dan pemerintahan.
Nama Malioboro diperkirakan berasal dari bahasa Sanskerta "Malyabhara," yang berarti karangan bunga, atau dari nama kolonial Inggris yang pernah tinggal di Yogyakarta.
Seiring berjalannya waktu, kawasan ini tidak hanya berkembang menjadi pusat ekonomi, tetapi juga menyimpan berbagai nilai filosofis dan spiritual yang dipercaya oleh masyarakat setempat.
ADVERTISEMENT
Konsep garis imajiner yang menghubungkan Gunung Merapi, Keraton Yogyakarta, dan Laut Selatan dipercaya memiliki makna spiritual yang mendalam.
Banyak yang meyakini bahwa energi dari ketiga titik tersebut mengalir melalui Malioboro, menjadikannya kawasan dengan aura mistis yang kuat.
Salah satu mitos yang cukup terkenal adalah larangan berjalan di sepanjang Jalan Malioboro hingga Keraton Yogyakarta bagi pasangan yang belum menikah.
Konon, pasangan yang melanggar mitos ini akan mengalami perpisahan dalam waktu dekat.
Kepercayaan ini muncul karena Malioboro diyakini sebagai bagian dari poros sakral yang menghubungkan dunia manusia dengan kekuatan gaib di Keraton Yogyakarta.
Selain itu, ada juga mitos tentang keberadaan makhluk tak kasat mata yang menghuni kawasan ini.
Beberapa pedagang kaki lima dan pengunjung mengaku pernah melihat sosok bayangan atau mendengar suara-suara aneh saat berjalan di Malioboro pada malam hari.
ADVERTISEMENT
Kejadian tersebut sering dikaitkan dengan sejarah panjang Malioboro yang pernah menjadi saksi bisu berbagai peristiwa besar, termasuk peperangan dan perjuangan kemerdekaan.
Mitos lain yang tak kalah menarik adalah Lintang Kemukus, sebuah kepercayaan yang menyebutkan bahwa jika seseorang melihat bintang berekor di langit Malioboro, maka akan ada pertanda besar yang terjadi.
Sebagian orang menganggapnya sebagai pertanda keberuntungan, sementara yang lain percaya bahwa itu adalah tanda datangnya bencana atau perubahan besar dalam kehidupan seseorang.
Mitos ini erat kaitannya dengan primbon Jawa yang masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Yogyakarta.
Kepercayaan masyarakat terhadap mitos Jalan Malioboro juga muncul dalam bentuk pantangan-pantangan tertentu.
Salah satunya adalah larangan mengambil atau membawa pulang benda apapun yang ditemukan di sekitar Malioboro, terutama saat malam hari.
ADVERTISEMENT
Banyak yang percaya bahwa barang-barang tersebut bisa membawa sial atau bahkan mendatangkan gangguan dari makhluk halus.
Hingga kini, mitos Jalan Malioboro tetap menjadi bagian dari kekayaan budaya Yogyakarta. Masyarakat setempat dan wisatawan sering membicarakannya sebagai bagian dari pengalaman unik saat mengunjungi kawasan ini.
Kepercayaan terhadap mitos ini bisa Anda jadikan sebagai pelajaran tentang bagaimana tradisi dan budaya tetap bertahan meski zaman terus berubah. (Khoirul)