Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Mitos Telaga Sarangan, Legenda yang Masih Dipercaya Hingga Kini
2 April 2025 21:37 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Sejarah dan Sosial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Mitos Telaga Sarangan telah berkembang sejak lama dan menjadi bagian dari kepercayaan masyarakat di Magetan, Jawa Timur. Kisah yang mengiringi keberadaan telaga ini selalu menarik perhatian pengunjung yang datang.
ADVERTISEMENT
Keindahan alam yang berpadu dengan cerita mistis membuat Telaga Sarangan semakin populer sebagai destinasi wisata.
Mitos Telaga Sarangan
Mitos Telaga Sarangan berkaitan erat dengan legenda sepasang suami istri yang konon berubah menjadi naga.
Dikutip dari laman balaibahasajatim.kemdikbud.go.id, Telaga Sarangan adalah danau alami yang terbentuk di lereng Gunung Lawu dengan luas sekitar 30 hektare dan kedalaman mencapai 28 meter.
Keindahan telaga ini tidak hanya menawarkan pesona alam yang memukau, tetapi juga menyimpan kisah turun-temurun yang masih diyakini masyarakat sekitar.
Kisah yang paling dikenal adalah tentang Kyai Pasir dan Nyai Pasir, sepasang suami istri yang tinggal di daerah tersebut. Mereka telah lama menikah tetapi belum dikaruniai anak, sehingga memutuskan untuk bertapa dan berdoa kepada Sang Hyang Widhi.
ADVERTISEMENT
Setelah bertahun-tahun, doa mereka akhirnya dikabulkan dengan kelahiran seorang anak laki-laki bernama Joko Lelung.
Suatu hari, Kyai Pasir dan Nyai Pasir menemukan sebuah telur di ladang dan membawanya pulang. Setelah telur tersebut dimasak dan dimakan, mereka tiba-tiba merasakan panas di seluruh tubuh.
Tubuh mereka perlahan berubah menjadi sisik, dan mereka berguling-guling di tanah akibat rasa gatal yang luar biasa. Gerakan mereka menciptakan cekungan besar di tanah yang kemudian terisi air, membentuk sebuah telaga.
Seiring waktu, tempat tersebut dikenal sebagai Telaga Pasir sebelum akhirnya berubah nama menjadi Telaga Sarangan karena lokasinya di Desa Sarangan.
Hingga kini, masyarakat percaya bahwa Kyai Pasir dan Nyai Pasir masih bersemayam di telaga dalam wujud naga.
ADVERTISEMENT
Selain itu, terdapat mitos bahwa pasangan kekasih yang datang ke Telaga Sarangan akan mengalami perpisahan. Mitos ini membuat sebagian orang percaya bahwa telaga tersebut memiliki energi tertentu yang memengaruhi hubungan asmara.
Kepercayaan ini juga terus berkembang seiring waktu, meskipun tidak semua orang meyakininya.
Di tengah telaga, terdapat sebuah pulau kecil yang juga memiliki mitos tersendiri. Konon, pulau tersebut adalah tempat tinggal Kyai Pasir dan Nyai Pasir dalam wujud naga.
Beberapa masyarakat percaya bahwa pada waktu-waktu tertentu, sosok mereka masih bisa terlihat di sekitar telaga.
Mitos lain yang berkembang adalah tentang pohon liwung yang tumbuh di lereng Gunung Lawu. Pohon ini diyakini tidak bisa ditebang karena setiap kali ditebang, pohon tersebut akan kembali tumbuh dengan cepat.
ADVERTISEMENT
Masyarakat sekitar meyakini bahwa pohon liwung memiliki kekuatan gaib yang menjaganya tetap berdiri.
Mitos Telaga Sarangan terus menjadi bagian dari daya tarik wisata yang membuat telaga ini semakin unik. Kepercayaan masyarakat terhadap kisah-kisah ini menjadi bukti bahwa legenda turun-temurun masih bertahan hingga saat ini. (Shofia)