Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
3 Tradisi Lebaran di Jawa Tengah, Kebiasaan yang Sarat Makna
29 Maret 2025 15:13 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Seputar Jateng tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Semakin dekat dengan Lebaran, semakin terlihat antusiasme masyarakat dalam merayakan Hari Kemenangan. Tradisi Lebaran di Jawa Tengah menjadi tanda bahwa masyarakat Jawa Tengah selalu menyambut hadirnya Lebaran dengan penuh suka cita.
ADVERTISEMENT
Setelah berpuasa satu bulan penuh, tiba saatnya masyarakat muslim untuk menyambut Hari Raya Idulfitri. Pastinya momen ini menjadi sangat dinanti, karena bisa berkumpul kembali bersama keluarga.
Tradisi Lebaran di Jawa Tengah yang Masih Dilestarikan Sampai Sekarang
Dikutip dari buku Pengantar Studi Kebudayaan oleh Prof. Dr. Alo Liliweri (2019:97), kata tradisi berasal dari bahasa Latin “tradere” atau “traderer” yang secara harfiah berarti mengirimkan, menyerahkan, memberi untuk diamankan. Tradisi adalah suatu ide, keyakinan, atau perilaku dari suatu masa yang lalu yang diturunkan secara simbolis dengan makna tertentu kepada suatu kelompok atau masyarakat.
Berkaitan dengan Lebaran, setiap daerah punya kebiasaannya masing-masing. Khusus di Jawa Tengah, berikut tradisi Lebaran di Jawa Tengah yang masih dilakukan sampai saat ini:
ADVERTISEMENT
1. Lomban di Jepara
Lomban menjadi tradisi Lebaran yang dilakukan di Jepara. Lomban memiliki nama lain bakda kupat atau Lebaran kupat, merupakan pesta masyarakat nelayan yang berbentuk sedekah laut.
Sekarang ini, tradisi tersebut tidak hanya dilakukan oleh nelayan, tetapi semua masyarakat Jepara. Tradisi ini digelar tujuh hari setelah Idulfitri dengan suka cita.
2. Gunungan Syawal di Solo
Selanjutnya, tradisi Gunungan Syawal di Solo yang digelar di alun-alun sisi utara serta Masjid Agung. Tradisi ini berupa dua gunungan, yaitu Gunungan Jaler (laki-laki) yang dihias dengan berbagai hasil bumi, juga Gunungan Estri (perempuan) yang berhias rengginang.
Oleh masyarakat, dua gunungan tersebut diperebutkan. Perebutan gunungan tersebut bisa dilakukan setelah gunungan didoakan oleh takmir Masjid Agung.
3. Kupat Jembut Semarang
Bergeser ke Semarang, terdapat tradisi Kupat Jembut yang dilakukan oleh masyarakat di wilayah Pedurungan. Tradisi ini berupa kupat yang diisi dengan sambal kelapa dan tauge.
ADVERTISEMENT
Biasanya, tradisi ini diramaikan oleh anak-anak yang berlarian untuk memperebutkan uang dan ketupat. Biasanya, Kupat Jembut dilakukan saat memasuki bulan Syawal.
Tradisi Lebaran di Jawa Tengah bisa dikatakan sangat beragam. Meski ada di satu provinsi, setiap wilayah memiliki kebiasaan yang berbeda dalam menyambut datangnya hari raya. (YD)