Konten dari Pengguna

Belajar dari Tulisan Sartono Kartodirdjo (Pemberontakan Petani 1888)

Setyo Purwoto
Saya Setyo Purwoto mahasiswa Pendidikan Sejarah UNNES asal Grobogan. Aktif di PMII & GenBI berpengalaman dalam tim dokumentasi dan media. Di Kumparan saya menulis sejarah & isu sosial menggabungkan perspektif akademis dengan gaya jurnalistik
31 Maret 2025 16:15 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Setyo Purwoto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber Pribadi (Dokumentasi Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Sumber Pribadi (Dokumentasi Pribadi)
ADVERTISEMENT
Pernahkah Anda bertanya apa yang membuat sebuah peristiwa sejarah terasa lebih dari sekadar cerita lama? Di tangan Sartono Kartodirdjo Pemberontakan Petani Banten 1888 bukan cuma rangkaian fakta tentang petani melawan penjajah Belanda. Dalam bukunya yang terbit pada 1966 Sartono mengubah cara kita memandang sejarah lokal dari sekadar kronologi menjadi cermin dinamika sosial yang kompleks.
ADVERTISEMENT
Bayangkan Banten akhir abad ke-19. Petani tercekik oleh Cultuurstelsel dan pajak kepala yang memeras. Modernisasi paksa Belanda menggerus tatanan desa sementara ulama membakar semangat dengan janji Ratu Adil. Pemberontakan yang meletus bukan sekadar luapan amarah, melainkan perpaduan ekonomi, agama dan politik yang saling bertabrakan. Sartono tak hanya menceritakan "apa yang terjadi," tapi mengupas "mengapa itu terjadi."

Sejarah Bukan Cuma Kisah Pahlawan

Pendekatan yang disebut eventemental ini jadi keunggulan Sartono. Ia tak puas dengan narasi heroik atau daftar tanggal. Ia menyelami lapisan-lapisan penyebab dari tekanan kolonial hingga peran kepercayaan milenarianisme seperti detektif sejarah. Buku-buku rujukannya seperti karya Drewes (1925) tentang ajaran mesianik atau Van Sandick (1892) soal kondisi Banten jadi amunisi untuk memperkaya analisisnya.
ADVERTISEMENT
Bandingkan dengan cara kita sering mendengar kisah lokal lain, seperti pemberontakan PETA di Blitar atau perang Banjarmasin. Banyak yang terjebak pada glorifikasi tokoh atau urutan peristiwa, tanpa menggali akar masalahnya. Sartono menunjukkan bahwa sejarah lokal bisa lebih dari itu dia bisa jadi jendela untuk memahami perubahan besar di masyarakat.
Di zaman media sosial dan informasi cepat pendekatan Sartono terasa semakin relevan. Sejarah lokal sering tersisih, kalah pamor dengan narasi besar atau konten viral. Padahal kisah-kisah seperti pemberontakan Banten bisa jadi cermin untuk melihat warisan kolonial yang masih membayangi kita ketimpangan ekonomi, konflik sosial hingga peran agama dalam politik.
Sartono mengajak kita menulis sejarah yang hidup tak sekadar mendokumentasikan tapi menghubungkannya dengan konteks yang lebih luas. Misalnya, bagaimana tekanan ekonomi masa lalu mirip dengan tantangan petani hari ini? Atau bagaimana mobilisasi religius dulu bisa dibandingkan dengan dinamika politik kekinian?
ADVERTISEMENT

Inspirasi untuk Penulis Lokal

Bagi penulis sejarah lokal karya Sartono adalah panggilan untuk berpikir lebih dalam. Jangan cuma menumpuk fakta tapi temukan pola dan makna. Sejarah Banten 1888 misalnya bukan cuma soal petani melawan Belanda tapi tentang perjuangan kelas, dampak modernisasi dan semangat kolektif yang masih bergema. Di era ketika sejarah lokal sering terabaikan pendekatan Sartono menawarkan cara untuk membuatnya relevan kembali. Ia membuktikan bahwa kisah dari sudut kecil Nusantara bisa bercerita banyak tentang identitas kita dulu, kini dan nanti.
Pemberontakan Petani Banten 1888 bukan sekadar buku sejarah tapi pelajaran tentang cara menulis masa lalu agar tak mati di lembaran buku. Sartono Kartodirdjo mengingatkan sejarah adalah cermin dan tugas kita adalah memastikan pantulannya tetap tajam. Untuk apa? Agar kita tak hanya mengenang tapi juga belajar membangun masa depan yang lebih baik.
ADVERTISEMENT