Konten dari Pengguna

Di Balik Lebaran, Jangan Mau Dirusak oleh Mulut Orang Lain

Syarif Yunus
Dosen Unindra - Edukator Dana Pensiun - LSP Dana Pensiun - Konsultan - Dr. Manajemen Pendidikan - Pendiri TBM Lentera Pustaka - Penulis 54 buku
2 April 2025 11:41 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Syarif Yunus tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Musim lebaran sering dipakai silaturahim. Tapi sekarang kawan bercerita, udah malas silaturahim. Karena katanya, di balik silaturahim sering banyak omongan yang buruk dan gibah yang tidak ada habisnya. Masa iya begitu? Iya memang begitu. Terkadang, hidup kitayang jalanin tapi orang lain yang komentarin.
ADVERTISEMENT
Mungkin sulit dihindari dalam silaturahim atau pergaulan. Yang ujungnya, hanya membicarakan orang lain bahkan membahas aib-aib orang lain, apalagi orang yang dianggap musuhnya atau dibencinya. Tapi terserah apa namanya, peganglah prinsip “jangan mau dirusak oleh mulut orang lain”. Jangan pernah sudi suasana hati dirusak hanya karena omongan orang lain. Apalagi zaman now, mungkin satu mulut bisa berhenti tapi pasti akan ada mulut-mulut lainnya yang berkoar-koar.
Patut dipahami, omongan orang itu sulit dikontrol. Perkataan dan pikiran orang lain pun seperti hujan. Kita tidak akan bisa mencegahnya, apalagi menghentikannya. Selalu dan akan terus ada. Sebab apa yang keluar dari mulut orang lain itu terjadi karena sifat dan pemikirannya. Mau sebaik ataupun buruknya kita, tetap saja, kita tidak akan pernah bisa selamat dari omongan manusia.Maka tips-nya sederhana. Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Jangan biarkan suasana hati kita dirusak oleh omongan orang lain. Karena mulut punya orang, tapi hati punya kita.
ADVERTISEMENT
Adalah wajar, biar suasana lebaran, masih ada orang yang tidak suka pada kita. Orang yang kerjanya membenci kita akan selalu ada. Entah apa sebabnya? Karena kodrat manusia memang tidak sempurna. Tidak mampu membahas yang baik ya mau tidak mau mengkaji yang buruk. Karena pekerjaan paling mudah adalah bergibah tentang orang lain. Jadi, tidak masalah apa pun yang orang katakan tentang kita. Toh, hidup dan segala sesuatunya kita yang menjalaninya. Orang lain memang tugasnya ngomongin, sekalipun tidak kasih makan tidak pula sekolahkan kita.
Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain
Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Teruslah berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Bila kita berbuat baik, tentu bukan untuk dipuji. Bila kita salah pun, adalah momen untuk memperbaiki diri. Karena selama masih ada di dunia, tugas kita hanya terus belajar. Belajar menyikapi hidup, belajar menerima omongan orang lain. Sambil tetap eling dan waspada. Agar esok, kita bisa berkembang menjadi lebih baik.
ADVERTISEMENT
Ketahuilah, orang lain hanya punya mulut. Tidak punya uang untuk kasih makan. Tidak punya kelebihan untuk membantu orang lain. Jadi biarkan mereka hidup dengan dunianya dan kebiasaannya. Maka, jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Tetaplah introspeksi diri, teruslah memperbaiki diri. Bila ada omongan orang lain yang buruk, cukup disikapi dengan rileks tanpa perlu menjadikannya sebagai beban. Jadikan pembelajaran sekaligus hikmah, bahwa di dunia apa saja ada. Termasuk orang yang tidak punya urusan dengan kita tapi begitu peduli mulutnya terhadap kita.
Mulut orang lain sama sekali tidak bisa kita bungkam. Cukup jadikan pelajaran dan sarana untuk terus berbuat baik dan menebar manfaat di mana pun. Jangan mau dirusak oleh mulut orang lain. Sebab kita ada hingga hari ini, bukan untuk mendengarkan omongan lain. Tapi untuk menjalankan apapun sesuai kata hati. Fokus saja pada diri kita sendiri, tidak ada ruang bagi mulut orang lain. Salam literasi!
ADVERTISEMENT