Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Pengaruh Attachment Style pada Kualitas Hubungan Remaja Dewasa
4 Maret 2025 14:03 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Tadzqia Rasyiqa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Teori attachment style pertama kali dikemukakan oleh John Bowlby yang menekankan bahwa attachment style adalah gaya kelekatan yang ada diantara pengasuh dan bayi. Dalam perjalanan hidup seorang anak, ia akan melewati berbagai fase pertumbuhan dan perkembangan bersamaan dengan pola asuh yang diberikan oleh kedua orangtua nya. Hal ini akan berdampak besar bagaimana nantinya seorang anak tersebut akan membangun hubungan bersama pasangannya kelak.
ADVERTISEMENT
Attachment style, yang dikembangkan juga oleh Bowlby dan diperluas oleh Bartholomew dan Horowitz merujuk pada pola keterikatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak dan berlanjut hungga hubungan interpersonal di masa dewasa. Dalam konteks remaja dewasa, attachment style berperan dalam menentukan bagaimana individu menjalin dan mempertahankan hubungan romantis.
Perjalanan hidup seorang anak berlangsung hingga mencapai fase remaja dewasa, tahap ini penting dalam pencaharian jati diri serta pengalaman menerima kasih sayang dari individu di luar lingkungan keluarga. Pada masa ini, keterikatan emosional dengan figur ayah memiliki peran penting dalam membentuk pola hubungan di masa yang akan mendatang. Ketiadaan hubungan emosional yang kuat antara remaja dewasa dengan ayahnya dapat memicu berbagai permasalahan terkait attachment style, yang nantinya berpengaruh terhadap dinamika hubungan romantis di masa depan.
ADVERTISEMENT
Bartholomew dan Horowitz mengatakan bahwa terdapat empat jenis attachment style pada individu dewasa, yaitu: secure attachment, anxious-preoccupied attachment, fearful-avoidant attachment, dan dismissive-avoidant attachment. Secara individu dengan secure attachment cenderung memiliki hubungan yang lebih stabil dan sehat, karena mereka merasa nyaman dengan kedekatan emosional serta mampu menghadapi konflik dengan cara yang konstruktif. Sebaliknya, individu dengan anxious attachment lebih rentan terhadap ketergantungan emosional yang berlebihan, sehingga sering kali merasa cemas terhadap keberlanjutan hubungan dan membutuhkan validasi dari pasangan. Sementara itu, individu dengan avoidant attachment cenderung menghindari kedekatan emosional dan sulit mempercayai pasangannya, yang dapat menyebabkan hubungan yang kurang intim dan kurang harmonis.
Hurlock dalam (Ailsya, dkk, 2024) mengatakan bahwa adanya perasaan untuk merasa dicintai dan mencintai merupakan ciri menonjol dalam kehidupan remaja. Remaja bisa merasa tidak bahagia jika mereka tidak mendapatkan kasih sayang dari orang lain. Sehingga kebutuhan dalam menerima dan memberikan perasaan cinta menjadi penting (Ailsya Danahfatin, dkk, 2024). Hubungan romantis atau yang biasa disebut pacaran pada masa remaja dapat mempengaruhi bagaimana berperilaku dalam hubungan di masa dewasa (Estévez et al., 2018)
ADVERTISEMENT
Pengalaman keterikatan dengan orang tua, terutama ayah, memiliki dampak jangka panjang terhadap pola hubungan romantis di masa dewasa. Remaja yang mengalami fatherlessness atau kurangnya keterlibatan emosional ayah cenderung mengembangkan pola attachment yang tidak aman, seperti anxious dan avoidant attachment, yang dapat memengaruhi kestabilan hubungan mereka. Selain itu, penelitian juga menemukan bahwa attachment style berhubungan dengan kecemburuan dalam hubungan romantis, di mana individu dengan anxious attachment lebih mudah merasa cemburu dibandingkan dengan individu yang memiliki secure attachment.
Keterikatan emosional yang terbentuk sejak masa kanak-kanak tidak hanya berpengaruh pada hubungan romantis, tetapi juga pada cara individu menghadapi konflik dan membangun kepercayaan dalam hubungan sosial. Remaja dengan attachment style yang tidak aman sering kali mengalami kesulitan dalam mengungkapkan perasaan dan memahami emosi pasangannya, yang dapat menyebabkan kesalahpahaman serta ketidakseimbangan dalam hubungan. Pola anxious attachment, misalnya, mendorong individu untuk selalu mencari validasi dari pasangan, sehingga mereka cenderung merasa cemas dan takut kehilangan. Di sisi lain, individu dengan avoidant attachment lebih memilih untuk menjaga jarak dan menghindari kedekatan emosional, yang dapat menciptakan kesenjangan dalam komunikasi dengan pasangan.
ADVERTISEMENT
Menyadari pola attachment yang dimiliki menjadi langkah awal untuk memperbaiki kualitas hubungan di masa depan. Edukasi mengenai attachment style dan intervensi psikologis dapat membantu individu memahami pola keterikatannya serta mengembangkan strategi yang lebih sehat dalam berhubungan dengan orang lain. Terapi kognitif dan pendekatan berbasis komunikasi dapat menjadi cara efektif untuk mengatasi hambatan emosional yang muncul akibat attachment style yang tidak aman. Dengan kesadaran dan usaha yang berkelanjutan, individu dapat bertransisi menuju secure attachment, yang memungkinkan mereka membangun hubungan yang lebih harmonis, stabil, dan memuaskan.
Berbagai jenis attachment style ini akan terus terbawa oleh seorang individu. Jika ia tidak menyadari bahwa ia tidak berada di bagian “ secure attachment”, maka akan terus memberikan dampak yang besar ketika ia memiliki hubungan dengan individu lainnya. Seorang individu haruslah menyadari dan mencoba untuk terus menjadi lebih baik, hingga pada akhirnya ia berada di tahap secure tersebut.
ADVERTISEMENT
Referensi :
Ainsworth, M.D.S., Blehar, M.C.,Waters,E.,&Wall, S. N. (1978). Patterns of Attachment: A Psychological Study of the Strange Situation. Psychology Press
Ailsya, D., &Rizka, C. M. (2024). Pengaruh attachment styles terhadap ketergantungan emosional remaja berpacaran. Inquiry: Jurnal Ilmiah Psikologi, 15(1), 27-38.
Bartholomew, K., &Horowitz, L. M. (1991). Attachment styles among young adults: A test of a four-category model. Journal of Personality and Social Psychology, 61(2), 226-244
Bowlby, J. (1988). A Secure Base: Parent-Child Attachment and Healthy Human Development. Basic Books.
Danahfatin, A., & Rizka, C. M. (2024). Hubungan antara attachment styles dengan ketergantungan emosional dalam hubungan romantic remaja. Jurnal Psikologi Remaja, 12(3), 45-57
ADVERTISEMENT
Estevez, E., Jimenez, T. I., Moreno, D., & Musitu, G. (2018). Family attachment and peer attachment in adolescence: Differences in delinquency and aggressive behavior. The Spanish Journal of Psychology, 21, 1-10.
Hurlock, E. B. (1978). Developmental psychology: A Life-Span Approach. McGraw-Hill.
Mikulincer, M., & Shaver, P. R. (2007). Attachment in adulthood: Structure, dynamics, and change. Guilford Press