Konten dari Pengguna

Jejak 20 Ribu Sapi di Muara Kaman, Kisah Kedermawanan Maharaja Mulawarman

Adriyanto M
Pekerja mandiri, alumni Universitas Mulawarman, multi minat.
3 April 2025 13:26 WIB
·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Adriyanto M tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Maharaja Mulawarman di depan rakyatnya (Sumber: Dokumentasi Karya Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Maharaja Mulawarman di depan rakyatnya (Sumber: Dokumentasi Karya Pribadi)
ADVERTISEMENT
Mentari pagi menyentuh lembut permukaan Sungai Mahakam, memantulkan cahaya keemasan di atas perahu-perahu yang hilir mudik. Di tepian sungai, di jantung Kerajaan Kutai yang makmur, berdiri kokoh bangunan-bangunan kayu yang dihiasi ukiran indah, menandakan kemegahan kekuasaan Maharaja Mulawarman.
ADVERTISEMENT
Kutai pada masa itu, sekitar abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, adalah sebuah kerajaan yang telah mengadopsi pengaruh Hindu dari India. Hal ini terbukti dari ditemukannya tujuh prasasti Yupa di Muara Kaman, yang ditulis dalam aksara Pallava dan bahasa Sanskerta. Prasasti-prasasti inilah yang menjadi sumber utama pengetahuan kita tentang kerajaan ini dan khususnya tentang Maharaja Mulawarman.
Salah satu Yupa yang paling terkenal menyebutkan tentang kedermawanan Maharaja Mulawarman yang luar biasa. Di sana tertulis bahwa sang raja telah menghadiahkan 20.000 ekor sapi kepada para brahmana di sebuah tempat suci bernama Waprakeswara. Jumlah yang fantastis ini tidak hanya menunjukkan kekayaan kerajaan Kutai pada masa itu, tetapi juga betapa besar perhatian dan dukungan Maharaja Mulawarman terhadap para pemuka agama dan praktik keagamaan Hindu.
ADVERTISEMENT
Cerita ini akan membawa kita pada suatu hari di mana Maharaja Mulawarman hendak melakukan salah satu upacara kedermawanannya yang termasyhur. Rakyat Kutai dari berbagai penjuru telah berkumpul di sebuah lapangan luas dekat dengan Waprakeswara. Mereka datang dengan penuh antusiasme untuk menyaksikan secara langsung kemurahan hati raja mereka.
Di tengah lapangan, berdiri megah beberapa tugu batu yang kelak akan menjadi Yupa, saksi bisu kedermawanan sang maharaja. Para brahmana dengan jubah putih tampak khusyuk memimpin jalannya upacara. Aroma dupa dan bunga-bunga semerbak di udara, menciptakan suasana sakral dan khidmat.
Maharaja Mulawarman, dengan jubah kebesaran berwarna keemasan, tampak gagah dan berwibawa. Di sampingnya berdiri permaisuri dan para pembesar kerajaan. Wajah sang raja memancarkan ketenangan dan kebahagiaan saat melihat ribuan rakyatnya berkumpul dengan damai.
ADVERTISEMENT
Sebelum upacara dimulai, seorang brahmana senior maju ke depan dan membacakan sebuah prasasti yang baru saja diukir pada salah satu Yupa. Prasasti itu menceritakan tentang silsilah keluarga kerajaan Kutai, dimulai dari Kudungga yang agaknya merupakan kepala suku lokal yang kemudian mengadopsi agama Hindu, lalu putranya Asmawarman yang disebut sebagai pendiri dinasti, hingga akhirnya Maharaja Mulawarman, putra Asmawarman, yang membawa kerajaan Kutai mencapai puncak kejayaannya.
Setelah pembacaan prasasti, Maharaja Mulawarman maju ke depan dan menyampaikan pidatonya. Dengan suara yang lantang namun penuh kasih, ia berkata, "Wahai rakyat Kutai yang tercinta, hari ini adalah hari yang berbahagia. Kita berkumpul di sini bukan hanya untuk merayakan kemakmuran kerajaan kita, tetapi juga untuk mempererat tali persaudaraan dan keimanan kita kepada Sang Hyang Widhi Wasa."
ADVERTISEMENT
Sang maharaja melanjutkan, "Kekayaan dan kemakmuran yang kita nikmati saat ini adalah berkat rahmat-Nya dan juga berkat kerja keras kita bersama. Sebagai wujud syukur dan bakti kita, hari ini kita akan memberikan persembahan yang tulus kepada para brahmana, penjaga ilmu pengetahuan dan spiritualitas di kerajaan kita."
Setelah pidato singkat namun berkesan itu, dimulailah prosesi pemberian hadiah. Ribuan ekor sapi, yang telah dipilih dengan cermat, digiring satu per satu menuju para brahmana. Setiap ekor sapi dihiasi dengan kain berwarna dan bunga-bunga, melambangkan nilai dan kehormatan dari pemberian tersebut.
Rakyat Kutai menyaksikan pemandangan itu dengan rasa kagum dan bangga. Mereka tahu bahwa raja mereka tidak hanya kaya secara materi, tetapi juga kaya hati dan memiliki kepedulian yang besar terhadap kesejahteraan rakyat dan perkembangan agama. Kedermawanan Maharaja Mulawarman ini tidak hanya bermanfaat bagi para brahmana, tetapi juga secara tidak langsung memperkuat kedudukan agama Hindu di kerajaan Kutai dan meningkatkan citra kerajaan di mata dunia luar.
ADVERTISEMENT
Seorang petani tua yang berdiri di barisan paling belakang tampak berkaca-kaca. Ia teringat akan masa-masa sulit sebelum pemerintahan Maharaja Mulawarman. Kini, di bawah kepemimpinan sang raja yang adil dan dermawan, kehidupan mereka jauh lebih baik. Hasil panen melimpah, keamanan terjamin, dan hubungan antar masyarakat terjalin harmonis.
Di sisi lain, seorang pedagang dari negeri seberang yang kebetulan sedang berada di Kutai juga ikut menyaksikan upacara tersebut. Ia terkesan dengan kemegahan kerajaan dan kedermawanan rajanya. Ia berjanji akan membawa cerita ini kembali ke negerinya, sehingga semakin banyak orang yang akan mengenal dan menghormati Kerajaan Kutai.
Pada masa Maharaja Mulawarman, Kerajaan Kutai telah mengalami transformasi signifikan dari kemungkinan sebuah komunitas lokal menjadi sebuah kerajaan yang terstruktur dengan pengaruh Hindu yang kuat. Sistem pemerintahan kemungkinan telah tertata dengan baik, dengan raja sebagai penguasa tertinggi yang didukung oleh para bangsawan dan penasihat.
ADVERTISEMENT
Hubungan dengan India, yang menjadi sumber utama pengaruh Hindu, tampak erat, terbukti dari penggunaan bahasa Sanskerta dan aksara Pallava dalam prasasti-prasasti kerajaan. Kemakmuran kerajaan pada masa itu ditandai dengan kemampuan untuk mengadakan upacara-upacara besar dan memberikan donasi yang sangat banyak, menunjukkan adanya sumber daya ekonomi yang melimpah, kemungkinan dari hasil perdagangan maupun pertanian di wilayah yang subur.
Dari segi budaya, Kerajaan Kutai di bawah Mulawarman menunjukkan perpaduan antara unsur-unsur lokal dengan tradisi Hindu yang baru diadopsi. Keberadaan para brahmana yang menerima donasi besar mengindikasikan bahwa agama Hindu telah mapan dan memiliki peran penting dalam kehidupan kerajaan. Upacara-upacara keagamaan, seperti yang disebutkan dalam Yupa, menjadi bagian integral dari praktik kenegaraan.
ADVERTISEMENT
Selain itu, tradisi pengukiran prasasti pada tugu batu (Yupa) menunjukkan adanya kemampuan literasi dan keinginan untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa penting kerajaan, termasuk kedermawanan sang raja, bagi generasi mendatang. Hal ini mencerminkan sebuah masyarakat yang mulai memiliki kesadaran sejarah dan peradaban yang maju.
Kisah tentang kedermawanan Maharaja Mulawarman terus diceritakan dari generasi ke generasi. Prasasti Yupa menjadi bukti abadi akan kemuliaan hati sang raja. Tindakan beliau tidak hanya memperkuat fondasi spiritual kerajaan Kutai, tetapi juga meninggalkan jejak emas dalam sejarah, menjadikannya raja yang paling terkenal dan dihormati dalam catatan kerajaan tersebut. Kedermawanannya dipandang sebagai salah satu pilar utama yang menopang kejayaan dan kemakmuran Kerajaan Kutai pada masanya.
_________________
DISCLAIMER: Cerita fiksi pendek ini terinspirasi oleh sejarah Kerajaan Kutai dan sosok Maharaja Mulawarman, yang dikenal melalui prasasti Yupa. Meskipun berlatar belakang sejarah dan merujuk pada informasi faktual mengenai kerajaan Kutai pada abad ke-4 hingga ke-5 Masehi, termasuk pengaruh Hindu dan keberadaan prasasti Yupa, alur cerita, dialog, dan karakterisasi tokoh-tokoh di dalamnya adalah hasil imajinasi penulis. Cerita ini bertujuan untuk memberikan gambaran fiksi tentang salah satu sifat Maharaja Mulawarman, yaitu kedermawanannya, yang menjadikannya raja terkenal dalam sejarah Kutai. Interpretasi dan penggambaran peristiwa dalam cerita ini tidak dimaksudkan untuk menjadi representasi akurat dari kejadian sejarah yang sebenarnya.
ADVERTISEMENT