Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Tradisi Malam Songolikur di Masjid Al-Abror: Merawat Budaya dan Kebersamaan
31 Maret 2025 16:51 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Tsalis Fahmi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Pada Jumat, 28 Maret 2025, Masjid Al-Abror yang terletak di Desa Kemantren, Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, kembali menggelar tradisi tahunan "Malam Songolikuran" atau malam ke-29 Ramadan. Kegiatan ini merupakan bentuk kebersamaan dan ungkapan rasa syukur masyarakat Desa Kemantren dalam melestarikan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.
ADVERTISEMENT
Acara ini menjadi momentum yang dinanti oleh seluruh warga desa. Setiap kepala keluarga membawa tumpeng atau dalam istilah Jawa disebut 'ambeng', yaitu hidangan berupa nasi, lauk-pauk, dan lalapan yang disusun di atas tampah. Tradisi ini tidak hanya mempererat tali persaudaraan, tetapi juga menjadi bentuk ibadah dan penghormatan terhadap bulan suci Ramadan.
Rangkaian Acara Malam Songolikur
Kegiatan dimulai sejak pukul 16.00 WIB dengan berbagai agenda keagamaan. Jamaah masjid Al-Abror mengawali acara dengan khataman tadarus Al-Qur'an, khususnya pembacaan Juz 30 secara tartil. Setelah itu, dilanjutkan dengan pembacaan Tahlil dan Sholawat Nabi yang dibarengi dengan alat musik rebana, menambah kekhidmatan suasana serta menghidupkan suasana religius dengan irama khas yang menggema di dalam masjid.
ADVERTISEMENT
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan Takmir Masjid yang diwakili oleh Bapak Asyikin. Dalam sambutannya, beliau menekankan bahwa tradisi ini adalah wujud rasa syukur atas kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT untuk menjalani ibadah Ramadan. Ia juga berharap agar tahun depan masyarakat kembali diberi kesempatan untuk menjalankan ibadah di bulan suci dengan kondisi yang lebih baik.
Dukungan Warga dalam Tradisi Malam Songolikur
Selain membawa tumpeng, warga juga berpartisipasi dalam acara ini dengan menyumbangkan hewan ternak seperti kambing dan domba. Hewan-hewan tersebut kemudian disembelih, dimasak, dan dibagikan dalam bentuk hidangan daging berkuah kepada para peserta yang hadir. Tidak hanya itu, panitia juga menyediakan kurma yang dibagikan kepada seluruh jamaah sebagai bagian dari tradisi berbuka puasa bersama.
ADVERTISEMENT
Pada sesi akhir, menjelang waktu berbuka puasa, para peserta diperbolehkan mengambil kembali tumpeng yang telah dibawa. Meskipun pada dasarnya setiap kepala keluarga membawa tumpeng masing-masing, banyak juga warga yang datang tanpa membawa hidangan tersebut. Dalam semangat kebersamaan, mereka yang tidak membawa tumpeng sangat dipersilakan untuk makan bersama dan menikmati hidangan yang telah tersedia. Hal ini menjadi simbol dari nilai solidaritas dan gotong royong yang kental dalam masyarakat Desa Kemantren, di mana tidak ada yang dibiarkan merasa kekurangan.
Tradisi yang Penuh Makna dan Sejarah
Tradisi Malam Songolikur di Desa Kemantren telah berlangsung selama bertahun-tahun dan memiliki nilai historis yang mendalam. Berdasarkan cerita turun-temurun yang berkembang di masyarakat, dahulu tradisi ini dilaksanakan dengan sangat sakral. Warga membawa nasi talam ke masjid dengan berjalan kaki dari rumah masing-masing, bahkan beberapa di antaranya membawanya dengan cara disunggi (diletakkan di atas kepala) sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi dan nilai spiritual yang terkandung di dalamnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, masyarakat juga memiliki kebiasaan menghiasi gerbang rumah dengan "Lampu Colok" atau obor kecil tradisional. Cahaya lampu ini dipercaya sebagai simbol pengharapan mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar, malam yang penuh kemuliaan dalam bulan Ramadan.
Dengan tetap melestarikan tradisi ini, masyarakat Desa Kemantren tidak hanya menjaga warisan budaya leluhur, tetapi juga memperkuat ikatan sosial antarwarga serta meningkatkan kualitas ibadah di bulan suci Ramadan. Harapannya, semangat kebersamaan dan nilai-nilai yang terkandung dalam Malam Songolikur dapat terus diwariskan kepada generasi selanjutnya, menjadikannya sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di masa mendatang.