Konten dari Pengguna

Merenungi Makna Kemenangan Idulfitri

NEWS UAD
Informasi terkini Universitas Ahmad Dahlan
3 April 2025 8:29 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari NEWS UAD tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Khutbah Salat Idulfitri 1446 Hijriah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
zoom-in-whitePerbesar
Khutbah Salat Idulfitri 1446 Hijriah di Universitas Ahmad Dahlan (UAD) (Foto. Humas UAD)
ADVERTISEMENT
Dalam khutbah Idulfitri 1446 H, yang berlangsung pada Senin, 31 Maret 2025, di Lapangan Sepak Bola Kampus IV UAD, Drs. H. Sahari selaku Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Bantul menegaskan bahwa hakikat kemenangan bukan hanya sekadar merayakan hari raya, tetapi bagaimana seseorang tetap taat kepada Allah, takut kepada-Nya, dan menjalankan perintah-Nya dengan penuh keikhlasan.
ADVERTISEMENT
Sebulan penuh umat Islam telah berjuang melawan hawa nafsu, menahan lapar dan dahaga, serta menjaga lisan dari kebohongan dan perkataan yang sia-sia. Inilah bentuk kemenangan sejati, sebagaimana firman Allah dalam QS. An-Nur ayat 52, “Dan barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya, serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.”
Ia juga mengingatkan bahwa kemenangan sejati bukan hanya tentang menuntaskan ibadah puasa, tetapi bagaimana ketakwaan yang telah dilatih selama Ramadan dapat terus dijaga dalam kehidupan sehari-hari. Seorang muslim harus berhati-hati dalam bertutur kata, menghindari amarah, serta menjauhi kebohongan agar puasanya tidak sia-sia.
Salah satu teladan ketakwaan datang dari kisah seorang budak penggembala yang tetap menjaga amanah meskipun diberi kesempatan untuk berbuat curang. Ketika ditawari untuk menjual seekor kambing yang bukan miliknya, budak tersebut menolak dengan tegas dan berkata, “Majikanku memang tidak tahu, tetapi Allah melihat segalanya.” Sikap ini menunjukkan bahwa rasa takut kepada Allah adalah kunci utama dalam menjaga kejujuran dan integritas.
ADVERTISEMENT
Selain itu, ia mengingatkan bahwa ketakwaan pasca-Ramadan harus terus ditingkatkan dengan mengamalkan ajaran Islam, seperti mendirikan salat, membayar zakat, serta menjaga nilai-nilai kejujuran dan kebaikan. Allah telah menciptakan manusia dengan fitrah yang cenderung kepada kebaikan, sebagaimana firman-Nya dalam QS. Ar-Rum ayat 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada agama (Islam), sesuai fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
Sebagai penutup, ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Idulfitri sebagai momen kembali kepada fitrah, memperbanyak infak dan sedekah, serta mengendalikan hawa nafsu.
“Mari kita pupuk dan rawat ketakwaan ini agar terus menjadi bekal dalam meraih kemenangan demi kemenangan selama hayat dikandung badan,” pesannya.
Semoga nilai-nilai yang telah diperoleh selama Ramadan dapat terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, menjadikan setiap muslim sebagai pribadi yang lebih bertakwa, jujur, dan berakhlak mulia. (Septia)
ADVERTISEMENT