Konten Media Partner

Gapki Sumsel Sebut Kenaikan Tarif Impor AS Ancam Ekspor Sawit

4 April 2025 17:54 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Ilustrasi kelapa sawit. Foto: Yogie Hizkia/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelapa sawit. Foto: Yogie Hizkia/Shutterstock
ADVERTISEMENT
Kenaikan tarif impor oleh pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump dinilai menjadi ancaman serius bagi industri kelapa sawit nasional, termasuk Sumsel. Kebijakan tersebut disebut berpotensi menekan ekspor Crude Palm Oil (CPO) ke pasar AS, sekaligus menurunkan pendapatan petani sawit lokal. Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Sumsel, Alex Sugiarto, mengatakan kebijakan ini bisa berdampak langsung terhadap daya saing produk sawit Indonesia di pasar global. "Kenaikan tarif ini membuat produk sawit kita makin kurang kompetitif, berisiko menurunkan volume ekspor dalam jangka pendek, dan tentu berdampak pada pendapatan petani serta daerah," ujar Alex kepada, Jumat (4/4/2025). Menurutnya, peningkatan beban biaya akibat tarif tinggi tersebut sangat membebani pelaku usaha ekspor. Untuk itu, GAPKI Sumsel mendorong pemerintah pusat segera membuka jalur negosiasi dagang dengan AS guna mengurangi dampak tarif yang dikenakan. "Langkah strategis sangat diperlukan. Pemerintah bisa memberikan insentif keuangan seperti keringanan pajak atau penghapusan pungutan ekspor guna membantu pengusaha menghadapi tekanan biaya," katanya. Meski ekspor sawit ke AS bukan yang terbesar dibanding pasar India, Tiongkok, dan Pakistan, Alex menyebut momentum ini justru bisa dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi industri sawit, khususnya di Sumsel. “Sumsel memiliki potensi besar dalam pengembangan industri hilir sawit, baik dari sisi geografis maupun dukungan pemerintah daerah yang kuat. Ini saatnya memperkuat industri dalam negeri,” jelasnya. Lebih lanjut, Alex optimistis bahwa meskipun AS memberlakukan tarif tinggi, produk sawit Indonesia tetap punya peluang karena negeri Paman Sam juga menerapkan tarif tinggi untuk minyak nabati lainnya. "Selain itu, kita melihat peluang baru dari pasar Tiongkok, yang berpotensi meningkatkan impor minyak sawit jika terjadi kebijakan pembatasan terhadap kedelai AS. Ini harus jadi strategi ekspansi kita," pungkasnya. Dengan kondisi global yang dinamis, GAPKI Sumsel mengajak pemerintah dan pelaku usaha bahu membahu menjaga keberlanjutan industri sawit nasional agar tetap tumbuh dan menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
ADVERTISEMENT