Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Konten dari Pengguna
Jebakan Ketidakbahagiaan dan Masalah Kesehatan Mental Gen Z
16 Maret 2025 18:02 WIB
·
waktu baca 6 menitTulisan dari wahyu andrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Survei Biro Sensus AS pada tahun 2022 menemukan fakta bahwa, dari seluruh responden Generasi Z (usia 18-24 tahun), 44% menyatakan adanya perasaan gugup, gelisah, atau cemas yang terus-menerus dan (33%) menyatakan adanya perasaan depresi, sedih, atau putus asa yang terus-menerus. Dibandingkan generasi lain, Generasi Z lebih cenderung merasa kurang puas dengan kesehatan mental mereka.
ADVERTISEMENT
Sebuah artikel dari Universitas Airlangga yang mengutip data Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa prevalensi kasus masalah kesehatan mental di kalangan Generasi Z meningkat sebesar 200%. Secara umum, 6,1% penduduk Indonesia berusia di atas 15 tahun menderita masalah kesehatan mental. Data dari platform survei mobile Jakpat pada tahun 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 59% responden Generasi Z di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Survei ini melibatkan 1.870 responden. Sebuah studi kolaborasi antara Snapcart dan IDN Times pada tahun 2017 menunjukkan bahwa Generasi X (generasi yang lebih tua) lebih bahagia dibandingkan Generasi Z dan Y (milenial). Penelitian IPB University mengenai kebahagiaan Generasi Z selama pandemi COVID-19 menemukan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara laki-laki dan perempuan, di mana kebahagiaan perempuan Generasi Z secara signifikan lebih rendah dibandingkan laki-laki selama pandemi.
ADVERTISEMENT
Generasi Z tumbuh besar dengan media sosial sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. Platform seperti Instagram, TikTok, dan Facebook menampilkan versi terbaik dan terkurasi dari kehidupan orang lain. Hal ini menciptakan budaya perbandingan yang konstan, di mana individu cenderung membandingkan diri mereka dengan pencapaian, penampilan, dan gaya hidup orang lain yang seringkali tidak realistis. Paparan terus-menerus terhadap "highlight reel" orang lain dapat memicu perasaan tidak cukup, rendah diri, dan kecemasan. Fear of Missing Out (FOMO) adalah kecemasan atau ketakutan bahwa seseorang mungkin melewatkan pengalaman yang menarik atau menyenangkan yang sedang dialami orang lain, terutama yang terlihat di media sosial. Generasi Z merasa tertekan untuk selalu "up-to-date" dan berpartisipasi dalam berbagai aktivitas yang mereka lihat secara online. Hal ini dapat menyebabkan stres, kelelahan mental, dan perasaan tertinggal jika mereka merasa tidak dapat mengikuti semua yang terjadi. FOMO juga dapat menurunkan harga diri karena individu merasa kehidupan mereka kurang menarik atau memuaskan dibandingkan orang lain.
ADVERTISEMENT
Generasi Z menghadapi lanskap ekonomi dan pekerjaan yang terus berubah dan tidak pasti. Mereka menyaksikan krisis ekonomi sebelumnya dan menyadari tantangan dalam mendapatkan pekerjaan yang stabil dan memuaskan. Persaingan di dunia pendidikan dan kerja juga semakin ketat. Ketidakpastian ini dapat memicu kecemasan yang signifikan terkait masa depan finansial dan profesional mereka. Generasi Z tumbuh dengan ekspektasi yang tinggi dari orang tua, guru, dan masyarakat. Mereka merasa tertekan untuk mendapatkan nilai bagus, masuk ke universitas ternama, dan membangun karier yang sukses di usia muda. Tekanan ini, ditambah dengan perbandingan di media sosial, dapat menciptakan stres kronis, perfeksionisme yang tidak sehat, dan rasa takut akan kegagalan.
Perubahan sosial yang cepat dan pergeseran nilai-nilai tradisional dapat memengaruhi identitas Generasi Z. Mereka tumbuh dalam masyarakat yang lebih beragam dan inklusif, tetapi juga menghadapi tantangan dalam menavigasi identitas mereka dalam konteks nilai-nilai yang terus berkembang. Ketidaksesuaian antara nilai-nilai yang mereka anut dengan nilai-nilai yang dominan dalam masyarakat atau keluarga dapat menyebabkan konflik internal dan perasaan terasing. Generasi Z mengalami berbagai peristiwa traumatis dan sumber stres, termasuk pandemi COVID-19 yang membawa perubahan besar dalam kehidupan mereka (pembatasan sosial, pembelajaran jarak jauh, kehilangan orang terdekat). Selain itu, mereka juga menghadapi stres sehari-hari terkait sekolah, pekerjaan, hubungan, dan masalah keuangan. Pengalaman-pengalaman ini dapat meninggalkan bekas luka emosional dan berkontribusi pada masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
ADVERTISEMENT
Meskipun Generasi Z sangat terhubung secara digital, hal ini tidak selalu berarti mereka memiliki dukungan sosial yang kuat dalam kehidupan nyata. Interaksi online bersifat dangkal dan tidak dapat sepenuhnya menggantikan interaksi tatap muka yang mendalam dan dukungan emosional dari keluarga, teman, dan komunitas. Kurangnya koneksi sosial yang nyata dapat menyebabkan perasaan kesepian, isolasi, dan kurangnya rasa memiliki, yang semuanya dapat berkontribusi pada masalah kesehatan mental.
Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menetapkan kewajiban bagi pemerintah (pusat dan daerah) untuk menyediakan layanan kesehatan mental yang berkualitas. UU Kesehatan mendorong perluasan jangkauan layanan kesehatan mental di berbagai tingkatan, termasuk di komunitas, sekolah, kampus, dan fasilitas kesehatan primer. Hal ini akan memudahkan Generasi Z untuk mengakses bantuan tanpa harus menempuh jarak yang jauh atau menghadapi birokrasi yang rumit. UU ini mendorong pemanfaatan teknologi (telekonsultasi, aplikasi kesehatan mental) untuk menjangkau Generasi Z yang terbiasa dengan platform digital. UU Kesehatan mendorong peningkatan jumlah dan kualitas SDM Kesehatan mental (psikiater, psikolog klinis, konselor).
ADVERTISEMENT
Meskipun Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan memiliki potensi besar dalam mengatasi masalah kesehatan mental Generasi Z, tetapi dalam implementasinya tidak terlepas dari berbagai tantangan. Salah satu tantangan terbesar adalah ketersediaan SDM Kesehatan mental yang profesional dan kompeten, seperti psikiater, psikolog klinis, konselor, dan perawat jiwa. Jumlah mereka di Indonesia saat ini masih jauh dari ideal untuk memenuhi kebutuhan populasi, termasuk Generasi Z. Untuk menjangkau seluruh wilayah Indonesia, terutama daerah terpencil, distribusi SDM Kesehatan mental juga menjadi isu penting. Fasilitas kesehatan mental yang memadai, mulai dari puskesmas yang memiliki layanan kesehatan mental dasar hingga rumah sakit dengan fasilitas rawat inap psikiatri, belum tersebar merata di seluruh Indonesia. Akses ke fasilitas kesehatan yang berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan spesifik Generasi Z (misalnya, ruang konsultasi yang nyaman dan privat) perlu diperhatikan.
ADVERTISEMENT
Implementasi program-program kesehatan mental memerlukan anggaran yang signifikan. Pemerintah perlu mengalokasikan dana yang cukup untuk membiayai layanan kesehatan mental, pelatihan tenaga ahli, kampanye kesadaran publik, dan pengembangan infrastruktur. Prioritas anggaran dan persaingan dengan kebutuhan sektor kesehatan lainnya bisa menjadi tantangan.
Stigma terhadap masalah kesehatan mental masih menjadi hambatan di masyarakat Indonesia. Banyak orang masih merasa malu atau takut untuk mencari bantuan karena takut dicap negatif. Mengubah persepsi dan keyakinan yang salah tentang kesehatan mental memerlukan upaya edukasi yang berkelanjutan dan melibatkan berbagai elemen masyarakat. Tingkat literasi kesehatan mental di masyarakat, termasuk di kalangan Generasi Z, masih perlu ditingkatkan. Banyak yang belum mampu mengenali gejala awal masalah kesehatan mental pada diri sendiri atau orang lain, atau tidak mengetahui ke mana harus mencari bantuan.
ADVERTISEMENT
Kesehatan mental adalah isu yang kompleks dan melibatkan berbagai sektor, termasuk kesehatan, pendidikan, sosial, agama, dan lainnya. Koordinasi yang efektif antar kementerian/lembaga pemerintah, organisasi masyarakat sipil, institusi pendidikan (sekolah dan kampus), dan keluarga sangat penting untuk implementasi UU Kesehatan secara holistik dan terpadu. Kurangnya koordinasi dapat menyebabkan tumpang tindih program, inefisiensi penggunaan sumber daya, dan kurangnya kesinambungan layanan. Keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung kesehatan mental Generasi Z.
Tekanan era digital, ketidakpastian masa depan, dan berbagai isu sosial telah berkontribusi pada rendahnya tingkat kebahagiaan dan meningkatnya masalah kesehatan mental di kalangan Generasi Z. Perhatian dan dukungan berkelanjutan terhadap Generasi Z, evaluasi berkala terhadap implementasi UU Kesehatan, serta adaptasi terhadap perubahan kebutuhan Generasi Z akan menjadi hal yang esensial untuk memastikan mereka tidak lagi "terjebak dalam ketidakbahagiaan" dan dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat secara mental dan emosional, serta mampu berkontribusi secara positif bagi bangsa dan negara.
ADVERTISEMENT