Konten dari Pengguna

Urgensi Regulasi dan Intervensi Dini dalam Mengatasi Hikikomori

wahyu andrianto
Konsultan Hukum Kesehatan, Anggota Aktif WAML, Counsel Beberapa Lawfirm, Wakil Ketua Umum Masyarakat Hukum Kesehatan Indonesia.
29 Maret 2025 15:16 WIB
·
waktu baca 8 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari wahyu andrianto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi hikikomori. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi hikikomori. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Menurut Kantor Kabinet Pemerintah Jepang pada tahun 2016, sekitar 2% dari populasi Jepang berusia 15 hingga 39 tahun adalah hikikomori. Pada tahun 2023, diperkirakan total ada 1.5 juta orang di Jepang dari semua kelompok usia yang menjadi hikikomori. Pada tahun 2019 terdapat sekitar 613,000 orang berusia 40 hingga 64 tahun yang termasuk dalam kategori "hikikomori dewasa". Pria cenderung lebih banyak menjadi hikikomori, dengan perkiraan sekitar 60% dari populasi hikikomori adalah laki-laki.
ADVERTISEMENT
Pada tahun 2024, persentase Generasi Z (usia 15-24 tahun) di Indonesia yang berstatus NEET (Not in Education, Employment, or Training) adalah sekitar 20.31%. Angka ini menunjukkan proporsi anak muda yang cukup signifikan tidak terlibat dalam pendidikan, pekerjaan, maupun pelatihan. Angka NEET di Indonesia sempat mencapai 24.77% pada tahun 2015 dan menunjukkan tren penurunan hingga tahun 2024. Namun, pada tahun 2021, angka NEET Indonesia tercatat sebagai yang tertinggi di ASEAN.
Hikikomori (引きこもり atau ひきこもり) secara harfiah dalam bahasa Jepang berarti "menarik diri ke dalam" atau "mengurung diri". Istilah ini merujuk pada fenomena penarikan diri sosial yang ekstrem dan berkepanjangan dari kehidupan sosial, seringkali terbatas pada tinggal di rumah dan menghindari interaksi dengan orang lain di luar keluarga inti.
ADVERTISEMENT
Individu yang mengalami hikikomori menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, seringkali di kamar tidur, dan menghindari kontak dengan teman, rekan kerja, atau bahkan anggota keluarga lain di luar kebutuhan dasar. Penarikan diri ini berlangsung selama enam bulan atau lebih, dan dalam banyak kasus, bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun.
Mereka secara signifikan mengurangi atau bahkan menghentikan partisipasi dalam kegiatan sosial, pendidikan, pekerjaan, atau aktivitas di luar rumah lainnya. Beberapa individu dengan hikikomori menyadari kondisi mereka dan merasa tertekan atau ingin keluar dari situasi tersebut, sementara yang lain tidak memiliki keinginan untuk berubah.
Beberapa perilaku, seringkali menyertai hikikomori. Aktivitas sehari-hari seringkali terbatas pada kegiatan di dalam rumah, seperti menonton televisi, bermain video game, menggunakan internet, membaca, atau tidur. Interaksi dengan anggota keluarga inti biasanya terbatas pada hal-hal mendasar seperti makan atau kebutuhan sehari-hari lainnya. Komunikasi verbal bisa sangat minim. Beberapa individu dengan hikikomori memiliki pola tidur terbalik, aktif di malam hari dan tidur di siang hari, untuk menghindari interaksi dengan anggota keluarga atau dunia luar. Seringkali, individu dengan hikikomori bergantung secara finansial dan emosional pada orang tua atau anggota keluarga lainnya.
ADVERTISEMENT
Isolasi sosial yang berkepanjangan, seperti yang dialami oleh individu dengan hikikomori, memiliki dampak pada kesehatan mental. Manusia adalah makhluk sosial, dan interaksi dengan orang lain merupakan kebutuhan fundamental untuk kesejahteraan psikologis. Ketika kebutuhan ini tidak terpenuhi dalam waktu yang lama, berbagai masalah psikologis dapat muncul dan berkembang. Kesepian, isolasi, dan hilangnya tujuan hidup dapat dengan mudah memicu atau memperburuk depresi. Kurangnya dukungan sosial dan perasaan tidak berdaya dapat memperdalam perasaan sedih, putus asa, dan hilangnya minat pada aktivitas yang dulunya menyenangkan.
Isolasi yang berkepanjangan dapat memperburuk kesehatan mental. Semakin lama mereka menghindari interaksi sosial, semakin besar rasa takut dan cemas yang mereka rasakan saat membayangkan atau menghadapi situasi sosial sehingga menimbulkan kecemasan sosial (social anxiety disorder). Individu dengan gangguan kepribadian menghindar (avoidant personality disorder) memiliki pola penghindaran sosial yang mendalam karena takut dikritik atau ditolak. Hikikomori dapat menjadi manifestasi ekstrem dari pola ini, di mana mereka benar-benar menarik diri dari hampir semua interaksi sosial.
ADVERTISEMENT
Beberapa penelitian menunjukkan adanya korelasi antara hikikomori dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Perilaku kompulsif tertentu mungkin berkembang sebagai cara untuk mengatasi kecemasan dalam isolasi. Ketergantungan pada internet seringkali menjadi ciri khas hikikomori. Internet dapat menjadi pelarian dari dunia nyata dan memperkuat isolasi serta menimbulkan gangguan penggunaan internet (internet addiction disorder). Dalam beberapa kasus, isolasi ekstrem dapat memicu atau memperburuk gejala psikotik.
Ilustrasi laki-laki sedang menyendiri Foto: Getty Images
Beberapa dampak fisik berpotensi untuk timbul akibat hikikomori. Individu dengan hikikomori seringkali memiliki akses terbatas pada variasi makanan yang sehat. Mereka lebih mengandalkan makanan instan, makanan olahan, camilan tinggi gula dan lemak, atau makanan cepat saji yang mudah didapatkan dan tidak memerlukan interaksi sosial untuk membelinya. Menghabiskan sebagian besar waktu di dalam ruangan, seringkali hanya berbaring atau duduk di depan layar, menyebabkan kurangnya aktivitas fisik yang signifikan. Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat berkontribusi pada penumpukan kalori berlebih yang dapat menyebabkan obesitas. Obesitas meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan serius.
ADVERTISEMENT
Beberapa individu dengan hikikomori mengembangkan pola tidur yang terbalik, tidur di siang hari dan terjaga di malam hari. Hal ini dapat mengganggu ritme sirkadian alami tubuh dan menyebabkan masalah tidur kronis. Kurangnya paparan cahaya alami dan kurangnya aktivitas fisik dapat mengganggu produksi hormon tidur dan menyebabkan kualitas tidur yang buruk. Isolasi sosial dan perasaan negatif yang sering menyertai hikikomori dapat menyebabkan stres kronis. Stres kronis dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh, membuat individu lebih rentan terhadap infeksi dan penyakit.
Masyarakat seringkali memberikan label negatif dan stereotip kepada individu dengan hikikomori, seperti "pemalas," "antisosial," "tidak produktif," "egois," atau bahkan "aneh." Label-label ini merendahkan martabat dan mengabaikan kompleksitas masalah yang mendasari kondisi tersebut. Banyak orang tidak memahami apa itu hikikomori dan menganggapnya sebagai pilihan gaya hidup atau kemauan yang kurang kuat untuk berinteraksi. Mereka gagal menyadari bahwa hikikomori merupakan respons terhadap tekanan psikologis yang mendalam. Dalam beberapa budaya, termasuk yang mungkin berlaku di Indonesia, masalah kesehatan mental atau kondisi seperti hikikomori dapat dianggap sebagai aib keluarga.
ADVERTISEMENT
Urgensi regulasi dalam menangani hikikomori sangat erat kaitannya dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Undang-Undang Kesehatan mengatur berbagai aspek kesehatan, termasuk kesehatan mental. UU Kesehatan mendefinisikan kesehatan sebagai keadaan sehat fisik, mental, spiritual, dan sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
Sumber foto: https://pixabay.com/id/photos/kesehatan-mental-ubin-kayu-2019924/
Hikikomori jelas merupakan kondisi yang mengganggu aspek mental dan sosial seseorang, serta berpotensi menghambat produktivitas. UU ini mengakui kesehatan mental sebagai bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan dan menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan pelayanan kesehatan mental yang berkualitas. Individu dengan hikikomori, yang berisiko mengalami berbagai masalah kesehatan mental, berhak atas pelayanan ini.
UU Kesehatan mengamanatkan upaya kesehatan mental yang meliputi promosi, pencegahan, pengobatan, dan rehabilitasi. Regulasi khusus tentang hikikomori dapat memperjelas bagaimana upaya-upaya ini diimplementasikan secara efektif untuk kelompok ini. UU ini menegaskan peran pemerintah pusat dan daerah dalam menyelenggarakan upaya kesehatan yang terintegrasi dan komprehensif, termasuk kesehatan mental.
ADVERTISEMENT
Regulasi tentang hikikomori dapat menguraikan tanggung jawab pemerintah dalam menyediakan layanan, dukungan, dan program yang dibutuhkan. UU Kesehatan juga mendorong peran serta masyarakat dalam upaya kesehatan. Regulasi tentang hikikomori dapat melibatkan organisasi masyarakat, keluarga, dan komunitas dalam memberikan dukungan kepada individu yang mengalami kondisi ini. UU ini menekankan pentingnya sistem informasi kesehatan yang akurat dan terpadu. Regulasi tentang hikikomori dapat mendorong pengumpulan data yang lebih baik mengenai prevalensi, karakteristik, dan dampak fenomena ini di Indonesia.
Namun, implementasi regulasi dan intervensi dini untuk hikikomori di Indonesia berpotensi menghadapi berbagai tantangan dan hambatan yang perlu dipertimbangkan dengan seksama. Indonesia memiliki jumlah profesional kesehatan mental (psikiater, psikolog klinis, pekerja sosial psikiatri) yang jauh dari ideal untuk memenuhi kebutuhan populasi yang besar. Keterbatasan ini akan menyulitkan penyediaan layanan yang memadai bagi individu dengan hikikomori di seluruh negeri.
ADVERTISEMENT
Sebagian besar profesional kesehatan mental terkonsentrasi di kota-kota besar, sementara akses ke layanan di daerah pedesaan dan terpencil sangat terbatas. Ini akan menjadi kendala besar dalam menjangkau individu dengan hikikomori yang tinggal di daerah-daerah tersebut. Jumlah fasilitas kesehatan mental, termasuk pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) dengan layanan kesehatan mental dan rumah sakit jiwa, masih terbatas.
Selain itu, layanan khusus untuk hikikomori belum tersedia atau belum dikenal secara luas. Alokasi anggaran untuk kesehatan mental di Indonesia relatif rendah dibandingkan dengan kebutuhan dan dengan negara-negara lain. Hal ini dapat menghambat pengembangan dan implementasi program-program intervensi yang efektif untuk hikikomori.
Hikikomori disebabkan oleh kombinasi berbagai faktor, termasuk faktor psikologis (misalnya, kecemasan, depresi), sosial (misalnya, tekanan akademik, pengucilan), ekonomi (misalnya, pengangguran), dan budaya. Penanganan yang efektif memerlukan pendekatan multi-disiplin yang melibatkan profesional dari berbagai bidang, seperti kesehatan mental, pekerja sosial, pendidik, konselor karir, dan bahkan perwakilan dari pemerintah dan komunitas.
ADVERTISEMENT
Koordinasi dan kolaborasi antar sektor ini dapat menjadi tantangan tersendiri. Tidak ada satu ukuran yang cocok untuk semua dalam menangani hikikomori. Setiap individu memiliki latar belakang, pengalaman, dan kebutuhan yang unik, sehingga intervensi perlu disesuaikan dan dipersonalisasi. Keluarga memainkan peran penting dalam proses pemulihan, tetapi melibatkan keluarga bisa menjadi tantangan jika ada dinamika keluarga yang kompleks atau kurangnya pemahaman tentang kondisi hikikomori.
Implementasi regulasi dan intervensi dini untuk hikikomori di Indonesia menghadapi tantangan yang signifikan terkait dengan keterbatasan sumber daya dan infrastruktur kesehatan mental, kuatnya stigma budaya, kesulitan dalam menjangkau individu yang menarik diri, dan kompleksitas faktor penyebab.
Mengatasi hambatan-hambatan ini memerlukan upaya yang terkoordinasi dan berkelanjutan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, organisasi profesi, lembaga pendidikan, keluarga, dan masyarakat secara keseluruhan. Strategi yang komprehensif dan sensitif terhadap konteks budaya Indonesia sangat penting untuk keberhasilan implementasi.
ADVERTISEMENT