Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Bursa Asia Kompak Terjungkal Akibat Kebijakan Terbaru Tarif Impor Trump
3 April 2025 15:39 WIB
·
waktu baca 4 menit
ADVERTISEMENT
Bursa Asia kompak ambruk usai Presiden AS Donald Trump menerapkan sanksi tarif impor besar-besaran terhadap 60 negara pada pembukaan perdagangan, Kamis (3/4).
ADVERTISEMENT
Penerapan tarif impor ini ditujukan ke 60 negara dengan tingkat bea masuk beragam dari 10 persen sampai sekitar 50 persen.
Merespons kebijakan Trump, bursa saham Asia langsung merespons dengan ramai-ramai mengalami pelemahan secara bersamaan.
Mengutip laporan Bloomberg, Indeks utama pasar saham Vietnam anjlok hingga 6,2 persen, mencatatkan penurunan harian terbesar dalam lebih dari empat tahun.
Saham di Thailand, Filipina, Malaysia, dan Singapura juga dikabarkan melemah. Mengutip RTI, bursa saham Singapura melemah 11.500 poin atau 0,27 persen pada perdagangan sesi II pukul 15:02 WIB.
Lalu bursa Hong Kong ambruk 333,490 poin atau 1,44 persen, diikuti Indeks saham Shanghai (China) turun 8,119 atau 0,24 persen. Indeks Nikkei ambruk 990,000 poin atau sekitar 2,77 persen.
ADVERTISEMENT
Mata uang regional ikut tertekan, seperti baht Thailand melemah hingga 0,8 persen terhadap dolar AS, sementara dong Vietnam dan ringgit Malaysia juga mengalami penurunan.
Aset di Asia Tenggara terpuruk setelah kebijakan tarif impor yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada Rabu lalu. AS akan mengenakan tarif 46 persen pada ekspor Vietnam, 36 persen pada Thailand, dan 32 persen pada Indonesia.
China, sebagai mitra dagang terbesar kawasan ini, juga menjadi sasaran utama dengan total tarif kumulatif mencapai 54 persen.
"Ekonomi ASEAN akan menghadapi tantangan besar dalam beberapa bulan ke depan akibat dampak langsung dari lonjakan tajam tarif AS terhadap ekspor mereka, serta dampak tidak langsung dari guncangan terhadap pertumbuhan ekonomi global," kata Homin Lee, ahli strategi makro senior di Lombard Odier Ltd., Singapura.
ADVERTISEMENT
"Apakah pemerintah di kawasan ini dapat menurunkan tarif secara signifikan melalui negosiasi bilateral dengan tim Trump masih harus ditunggu."
Ekonomi Asia Tenggara sangat rentan terhadap tarif AS, mengingat Amerika adalah salah satu dari dua mitra dagang utama bagi Singapura, Vietnam, Thailand, dan Filipina, menurut data Dana Moneter Internasional (IMF) yang diterbitkan pada 2023. Saham-saham di kawasan ini sudah termasuk yang berkinerja terburuk di dunia tahun ini.
Vietnam, yang sebelumnya berusaha menarik simpati pemerintahan Trump sebelum pengumuman tarif, gagal menghindari salah satu tarif tertinggi yang diberlakukan oleh Gedung Putih.
Negara ini termasuk salah satu yang paling bergantung pada perdagangan di dunia, dengan ekspor yang setara hampir 90 persen dari total output ekonominya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, Vietnam memiliki surplus perdagangan terbesar ketiga dengan AS, menjadikannya target utama tarif.
“Tidak mengherankan jika terjadi aksi jual panik karena investor lokal sebelumnya hanya memperkirakan tarif sebesar 10 persen-15 persen,” kata Nguyen Anh Duc, kepala divisi perantara institusi dan penasihat investasi di SBB Securities Corp.
“Saldo pinjaman margin para pialang cukup tinggi dan ini bisa memperburuk situasi. Jika harga saham turun 10 persen lagi, kita mungkin akan melihat tekanan dari margin call.”
Saham Singapura dan Malaysia berhasil memangkas sebagian kerugiannya setelah kedua negara tersebut terkena tarif yang relatif lebih ringan, masing-masing sebesar 10 persen dan 24 persen.
Dolar Singapura menguat terhadap dolar AS pada Kamis, melampaui mata uang negara berkembang Asia lainnya. Sementara itu, pasar keuangan Indonesia ditutup hingga 7 April karena libur nasional.
ADVERTISEMENT
“Bagi Singapura, penerapan tarif minimum 10 persen memang bisa dianggap sebagai sedikit kabar baik. Namun, dampak negatifnya tetap besar karena perdagangan barang di negara kota ini jauh lebih besar dibandingkan ukuran ekonominya,” ujar Lee dari Lombard Odier.
Biaya untuk mengasuransikan utang negara-negara Asia Tenggara juga meningkat. Credit-default swaps (CDS), yang melacak obligasi negara-negara berkembang di Asia, melebar ke level tertinggi dalam 19 bulan, menurut para trader.
Biaya ini sudah mulai melonjak sejak Februari karena investor semakin khawatir tentang dampak tarif terhadap kemampuan peminjam di kawasan ini untuk membayar utangnya. Kontrak lima tahun Indonesia naik ke level tertinggi sejak Oktober 2023.
Pasar kini menantikan kemungkinan respons balasan dari negara-negara yang terkena tarif, yang semakin memperburuk ketegangan perdagangan global.
ADVERTISEMENT
Pada hari Kamis, China menyatakan dengan tegas menentang langkah tarif AS dan berjanji akan mengambil tindakan balasan untuk melindungi kepentingannya sendiri.
Peningkatan lebih lanjut dalam ketegangan perdagangan dapat memberikan tekanan tambahan pada mata uang Asia. Rupiah Indonesia telah melemah 2,8 persen tahun ini dan bulan lalu jatuh ke level terendah sejak krisis keuangan Asia 1998.
Meskipun tarif ini "akan berdampak negatif secara keseluruhan terhadap investasi asing langsung di kawasan ASEAN, penting untuk menyoroti bahwa setiap negara memiliki pendorong ekonomi dan basis investor yang berbeda," kata Gary Tan, manajer portofolio di Allspring Global Investments di Singapura.
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%