Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
DPR Minta Eksportir RI Cari Peluang ke Negara Lain Usai Trump Ketok Tarif Impor
3 April 2025 13:57 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Menurut Ketua Komisi VI DPR RI dari Fraksi PKB, Anggia Ermarini, kebijakan ini harus dicermati oleh eksportir asal Indonesia dengan baik.
“Produk indonesia akan kalah saing dengan produk AS atau negara lain yang lebih murah. Eksportir harus mencari peluang ekspor ke negara-negara lain,” kata Anggia kepada kumparan, Kamis (¾).
Selain itu Anggia melihat hal ini justru menjadi peluang karena investasi dapat bergeser ke negara-negara baru.
“Nah, ini jadi big opportunity juga bagi Indonesia jika dapat memanfaatkan situasi ini. Iklim investasi dalam negeri harus semenarik mungkin bagi investor global, termasuk penegakan hukum, kemudahan investasi menjadi sangat penting artinya,” ujar Anggia.
Selain Anggia, Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Andreas Eddy Susetyo mengungkap pemerintah harus segera menerapkan strategi perdagangan untuk mengurangi dampak tarif impor tambahan AS. Untuk hal ini menjelaskan beberapa cara untuk mengurangi dampak tarif AS tersebut.
ADVERTISEMENT
“Seperti meningkatkan kerjasama perdagangan antar negara Emerging Market Asia, negara-negara BRICS, dan meningkatkan penetrasi perdagangan pada negara tujuan ekspor non-tradisional,” kata Eddy kepada kumparan.
Ia memandang kebijakan baru Trump ini dapat menurunkan kinerja perdagangan Indonesia secara signifikan. Hal ini bisa terjadi karena tarif resiprokal AS terhadap Indonesia mencapai 32 persen. Selain itu Ia menjelaskan AS adalah negara mitra dagang terbesar kedua bagi Indonesia.
“Ekspor Indonesia ke AS pada tahun 2024 mencapai sebesar USD 26,4 bn atau berkontribusi signifikan sebesar 9,96 persen terhadap total ekspor. Porsi terbesar ekspor Indonesia terutama mencakup komoditas manufaktur seperti tekstil, garmen, produk pertanian dan elektronik,” ujarnya.
Selain itu menurut Eddy melihat fluktuasi pasar keuangan dapat meningkat. Hal ini karena eskalasi perang dagang secara global dapat membuat ketidakpastian dan volatilitas di pasar domestik semakin tinggi.
ADVERTISEMENT
“Risiko penurunan volume ekspor ke AS akan membatasi pasokan likuiditas Dolar AS, dan berisiko semakin menekan mata uang Rupiah,” kata Eddy.
Selain Indonesia, China juga dikenakan tarif impor atau tarif imbal balik (resiprokal) 34 persen. Negara tirai bambu tersebut menjadi negara pertama yang disebut Trump saat mengumumkan tarif baru.
Sementara di negara ASEAN, Trump mengenakan tarif impor yang tinggi ke Thailand dengan lebih tinggi yaitu 36 persen dan Vietnam 46 persen. Selain ASEAN, negara-negara sekutu AS juga kena serangan dari Trump. Misalnya saja Eropa 20 persen, Jepang 24 persen, Korea Selatan 25 persen.
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%