Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
Kebijakan Trump soal Tarif Impor Guncang Pasar Saham AS dan Kripto
3 April 2025 13:28 WIB
·
waktu baca 3 menit
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Setelah detail tarif diumumkan, Bitcoin yang sempat naik ke USD 87.000 langsung turun ke USD 83.000. Pasar saham AS juga mengalami tekanan, dengan Nasdaq 100 merosot 2,3 persen dan S&P 500 turun 1,7 persen dalam sesi perdagangan setelah jam kerja. Saham teknologi terkena pukulan cukup besar.
Tesla dan Palantir anjlok sekitar 8 persen, Apple turun 7 persen, sementara Amazon dan Nvidia masing-masing turun 6 persen. Saham perusahaan lain seperti Nike dan Walmart juga tak luput dari tekanan, dengan penurunan mencapai 7 persen.
Di sisi lain, ketidakpastian ini justru mendorong investor mencari aset yang lebih aman. Harga emas melonjak ke rekor baru mendekati USD 3.200 per ounce, mencerminkan meningkatnya permintaan terhadap instrumen safe haven.
ADVERTISEMENT
Kebijakan tarif baru yang diterapkan AS mencakup pengenaan tarif sebesar 25 persen untuk semua mobil impor yang mulai berlaku pada 3 April, serta tarif umum sebesar 10 persen untuk semua barang impor yang efektif pada 5 April. Beberapa negara dikenakan tarif khusus yang mulai diterapkan pada 9 April, dengan China menghadapi tarif sebesar 34 persen, Vietnam 46 persen, Taiwan 32 persen, Korea Selatan 25 persen, Uni Eropa 20 persen, Swiss 31 persen, termasuk Indonesia 32 persen.
Trump menegaskan kebijakan ini bertujuan melindungi ekonomi AS yang selama ini dianggap dirugikan oleh perdagangan yang tidak adil selama lebih dari 50 tahun.
Analis dari Reku, Fahmi Almuttaqin, menilai kebijakan ini berpotensi memicu kenaikan inflasi dan menunda pemangkasan suku bunga oleh The Fed. Ia menganggap ketidakpastian yang muncul bisa membuat investor semakin berhati-hati dalam berinvestasi pada aset berisiko seperti saham dan kripto, yang pada akhirnya dapat memberikan tekanan lebih lanjut terhadap harga kedua instrumen tersebut.
ADVERTISEMENT
Meski begitu, dampak sebenarnya dari kebijakan ini masih belum bisa sepenuhnya terlihat karena akan sangat bergantung pada bagaimana konsumen dan pelaku bisnis merespons perubahan ini. Jika kebijakan ini menyebabkan peningkatan pengangguran dan mendorong resesi, The Fed kemungkinan besar akan mempertimbangkan kebijakan pelonggaran seperti pemangkasan suku bunga.
Selain itu, mengingat rekam jejak Trump yang kerap menggunakan tarif impor sebagai alat negosiasi politik, kebijakan ini masih berpeluang berubah sewaktu-waktu.
Di tengah kondisi pasar yang tertekan, beberapa investor justru melihat situasi ini sebagai peluang buy on weakness, terutama bagi mereka yang memiliki toleransi risiko tinggi. Tren akumulasi institusi terhadap Bitcoin juga masih terlihat cukup kuat. Salah satu contohnya adalah GameStop yang saat ini memiliki dana segar hampir USD 1,5 miliar, yang kemungkinan sebagian akan dialokasikan untuk membeli Bitcoin.
ADVERTISEMENT
Bagi investor pemula, strategi dollar cost averaging (DCA) dapat menjadi pilihan yang lebih aman. Dengan strategi ini, investor mengakumulasi aset secara bertahap dalam periode tertentu, seperti sebulan sekali. Mereka bisa mendapatkan harga rata-rata pembelian yang lebih rendah jika tekanan di pasar berlanjut. Ketika kondisi pasar membaik, portofolio yang telah terbangun dari hasil akumulasi ini berpotensi memberikan keuntungan yang lebih optimal.
Donald Trump mengumumkan tarif impor baru ke banyak negara yang menjadi dimulainya genderangan perang dagang Trump, Rabu (2/4) malam waktu AS. Indonesia termasuk negara yang terdampak kebijakan baru ini. Tarif Impor Baru Trump, Indonesia Kena 32%