Rupiah Merosot ke Level Terburuk karena Trump, RI Harusnya Manfaatkan BRICS

3 April 2025 16:59 WIB
·
waktu baca 2 menit
comment
5
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
zoom-in-whitePerbesar
Petugas menghitung uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Jumat (2/1/2025). Foto: ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga
ADVERTISEMENT
Nilai tukar rupiah merosot usai Presiden AS Donald Trump mengumumkan tarif impor kepada semua negara minimal 10 persen. Indonesia termasuk negara yang masuk target Trump dengan diberlakukan tarif 32 persen.
ADVERTISEMENT
Keputusan ini membuat rupiah anjlok ke Rp 16.774 per Dolar AS, Kamis (3/4) sekitar pukul 09:00 WIB atau pukul 22:16, Rabu (2/4) waktu AS berdasarkan data Bloomberg.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pemerintah mesti bertindak cepat memitigasi dampak akibat tarif impor AS, agar pelemahan rupiah tidak berlanjut merosot.
"Ini melemahnya cukup tajam, walaupun perdagangan internasional di hari ini pun juga masih berkutat di Rp 16.745, sempat di Rp 16.770," kata Ibrahim ketika dihubungi kumparan, Kamis (3/4).
Menurut Ibrahim, pemerintah harus melakukan perlawanan terhadap AS dengan menetapkan biaya impor sebesar 32 persen juga terhadap produk-produk yang diimpor dari AS.
Presiden Donald Trump menunjukkan grafik tarif impor baru dengan disaksikan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick saat "Make America Wealthy Again" di Gedung Putih, Washington DC, Amerika Serikat, Rabu (2/4/2025). Foto: Brendan Smialowski/AFP
Yang kedua, pemerintah harus segera mencari pasar tujuan baru selain AS. Indonesia telah bergabung ke dalam blok ekonomi BRICS. Menurut Ibrahim negara-negara anggota BRICS harus membuka jalan untuk mengganti tujuan ekspornya di luar AS.
ADVERTISEMENT
"Karena dari awal kenapa Indonesia masuk bergabung dengan BRICS? Tujuannya adalah untuk meningkatkan transaksi perdagangannya," ucapnya.
Terakhir, Ibrahim menyarankan agar Bank Indonesia (BI) dan pemerintah melakukan ragam stimulus. Stimulus yang dimaksud seperti keringanan kredit, memperbanyak bantuan sosial (bansos), BLT, dan mengembangkan UMKM lewat koperasi di daerah-daerah.
"Karena pada saat di bawah perekonomian ini UMKM-UMKM, koperasi-koperasi, ini kemungkinan besar akan menjadi fondasi dasar perekonomian di Indonesia," kata Ibrahim.
Saat ditanya apakah merosotnya rupiah bakal lebih parah dari krisis moneter 1998, Ibrahim bilang efek terdepresiasinya takkan sampai separah krisis moneter di tahun tersebut.